07 – Maskumambang, 39 Pada – Serat Rama-Yasadipura1

.......yèn siyang cangkrama | lan garwa angambil sari |....

…….yèn siyang cangkrama | lan garwa angambil sari |….

Kini giliran kita mengidungkan Sekar Maskumambang. Serat Rama pupuh ke 7 Maskumambang ini memiliki 39 pada dan akan ditembangkan dengan bergantian seperti biasanya dengan laras slendro dan pelog.

Baiknya kita berikan dahulu mengenai serba-serbi Sekar Maskumambang sepertinya. Maskumambang mempunyai struktur sebagai berikut. Pupuh ini mempunyai baris singkat yaitu 4 baris saja. Sedangkan pada setiap baris dan akhiran vokalnya adalah sebagai berikut;

12 i,  6 a,  8 i,  8 a.

Continue reading

06 – Dhandhanggula, 31 Pada – Serat Rama-Yasadipura1

astanira anulya sinêbit | siwak jaja praptèng ing wadidang | Wiradha pêjah tibane | kadya gurda gumêbrug

astanira anulya sinêbit | siwak jaja praptèng ing wadidang | Wiradha pêjah tibane | kadya gurda gumêbrug

Sebelum lupa, akan kami sampaikan janji terdahulu pada permulaan tulisan mengenai macapat Serat Rama.  Janji akan dijelaskannya mengenai awer-awer dari setiap pupuh kidung pada artikel ini. Karena yang kami sampaikan adalah pupuh Dhandhanggula (Dandanggula ?), maka kami sampaikan bahwa kidung pupuh Dhandhanggula yang setahu saya punya batasan sebagai berikut.

Kidung ini mempunyai 10 baris. Jumlah suku kata dalam setiap satu barisnya (guru wilangan) dihubungkan dengan jatuhnya vokal akhiran (dhong-dhing) adalah sebagai berikut; misalnya baris pertama berjumlah 10 suku kata dan berakhiran vocal i, dituliskan sebagai 10i. Jadi lengkapnya setiap barisnya dan jatuhnya vokal adalah;

10i, 10 a,  8 é,  7 u,  9 i,  7 a,  6 u, 8a,  12i,  7a

Silakan anda cocokkan dengan kidung Dhandhanggula yang sudah disampaikan pada pupuh pertama, atau kidung yang disampaikan pada pupuh 6 yang kami sampaikan sekarang ini. Gampang kan? Karena aturan ini lebih membumi, dan ini adalah hasil karya budaya yang tumbuh atas kearifan lokal kita sendiri.

Continue reading

05 – Mijil, 42 Pada-Serat Rama-Yasadipura1

Ramawijaya malih mèngêti | yayi ana roro | luwih saking nyênyukêri ngrame | kêrêng drêngki singgahna tumuli | dosanya mrih sêdhih | krodhanya wor wuwus ||

Ramawijaya malih mèngêti | yayi ana roro | luwih saking nyênyukêri ngrame | kêrêng drêngki singgahna tumuli | dosanya mrih sêdhih | krodhanya wor wuwus ||

Pupuh Mijil mempunyai pada yang cukup banyak, yaitu sejumlah42 pada. Cerita dalm pupuh ini menggambarkan piwulang Rama terhadap Barata atau Brata, tentang bagaimana seorang pemimpin dalam hal ini raja mengayomi rakyat menjaga Negara dan mengendalikan bawahannya.

Kesanggupan Brata untuk menggantikan Rama menjadi Raja di Ayodya yang pada pupuh lalu telah disanggupi, menjadikan Rama memberi banyak petunjuk tentang sikap yang seyogyanya dilakukan oleh seorang pemimpin utamanya seorang pemimpin Negara.

Continue reading

04 – Sinom – 40 Pada, Serat Rama – Yasadipura1

.......marêk sarwi amular | wau Ni Dèwi Kekayi | ngundhat-undhat anagih kang patêmbayan ||..............

…….marêk sarwi amular | wau Ni Dèwi Kekayi | ngundhat-undhat anagih kang patêmbayan ||…………..

Pagi itu Prabu Dasarata sudah menggelar sidang istimewa dihadapan para satria dan punggawa. Ia akan menggelar upacara jumenengan atas anaknya, Ramawijaya.

Sekitar singasana sudah dihias dengan beraneka kembang-kembang. Harum ratus dan sari kembang menguar disekitar ruang. Dihamparan permadani kumala yang harum mewangi Sang Prabu duduk diantara umbul-umbul yang dipenuhi wewangian semerbak. Sang Prabu Dasarata memanggil para adipati dan mengatakan bahwa putranya, Rama akan diwisuda menjadi raja.

Continue reading

03 – Asmarandana – Pada 1-37 Serat Rama – Yasadipura 1

......Dasarata angrêrêpa | nêmbah ing sang wiku age | saking sih mantu lan putra | dhuh sang wiku ampunta.....

……Dasarata angrêrêpa | nêmbah ing sang wiku age | saking sih mantu lan putra | dhuh sang wiku ampunta…..

Pupuh Asmarndana ini memiliki 23 pada. Dalam pada-pada Asmarandana diceritakan secara singkat dalam tulisan dibawah. Sedangkan ntuk mengetahui irama tembang Asmarandana laras Slendro 9 dan Pelog 6 dalam bentuk MP3, tautannya anda bisa dapatkan pada akhir cerita bab 2 ini.

Kedua penganten telah dipertemukan, putri Mantilidireja dan putra Ngayodya. Terlihat seperti Batara Kamajaya dan Batari Ratih turun dari kahyangan keduanya ketika dihadapkan kepada kedua pihak pengantin. Sejatinya, banyak dari tetamu adalah para hapsara-hapsari yang turun ke istana Mantilidireja.

Continue reading

02 – Pangkur Pada 1-37 Serat Rama – Yasadipura 1

seratrama2ver2_edited-2

Diceritakan pada pada 1 hingga 9 adalah kisah mengenai kematian seorang raseksi bernama Thatakakya. Thathakakya adalah raseksi yang terbiasa hidup bergelantungan di dahan pohon. Ia adalah abdi dari Prabu Dasamuka yang ditugaskan untuk mengganggu pertapan para resi.

Kedua satria bantuan, Rama dan Leksmana segera merentangkan busur, dan panah rama mengenai leher Thathakakya yang seketika putus dan jatuh menghujam bumi bagaikan robohnya gunung anakan dengan suara yang mengerikan.

Seketika para cantrik bersuka cita karena kematian raseksi yang berbahaya itu. Bahkan seisi hutan dan gunungpun bersuka cita. Unggas seketika hilang penyakitnya, kijang dan banteng, senuk, memreng hingga kancil yang susah rasanya karena tidak bisa memangsa kini terbebas. Hanya badak saja yang masih gemuk karena ia bersembunyi dalam kepekatan lumpur. Bahkan pepohonan bila berbuahpun bisa dihitung jumlahnya.

Kematian Thathakakya menjadikan hewan-hewan kembali sebagaimana kebiasannya, bisa bebas memangsa. Pepohonan kembali berbuah lebat dan kembang kembali mekar.

Continue reading

01- Dhandhanggula Pada 1-54 – Serat Rama-Yasadipura 1

Empat Bersaudara Putra Alengka

Empat Bersaudara Putra Alengka

Cerita ini ditulis permulaannya pada hari Rabu Manis, bulan Sura yang ke tigapuluh, mangsa Kapat di tahun Kurantil. Seperti biasanya, karya karya empu jaman dahulu menengarai catatan tahunnya dengan sandi angka (Surya Sangkala/Sengkalan) berdasarkan kalimat, yang bila diutak-atik maka muncul sebuah angka yang menunjukkan sebuah angka tahun. Sengkala-nya adalah Sirneng Tata Pandhita Siwi. Yang bila dituliskan dengan angka adalah 1750 penanggalan Jawa, atau 1822 tahun Masehi.

Diceritakan, bahwa Langen Cerita ini mengisahkan sebuah babad seorang Bathara Rama, yang ditulis dengan bahasa Jawa Krama Madya, dituangkan dalam bait-bait atau pupuh sekar atau tetembang Macapat.

Continue reading

LAIRE DASAMUKA – Sebuah Bebuka Macapat Serat Rama, berupa pagelaran wayang purwa oleh Ki Manteb Sudarsana.

 

Wedharan Sastrajendra yuningrat Pangruwating Diyu

Wedharan Sastrajendra Yuningrat Pangruwating Diyu

Kisah bertutur dengan pupuh-pupuh Sekar Macapat Serat Rama tidak dimulai dari bagaimana kedua orang tua Dasamuka bersaudara menjadi suami istri. Maka kami sampaikan kisah ini dalam pagelaran wayang purwa oleh Ki Manteb Sudarsana sebagai pancadan dalam menelusuri secara keseluruhan kisah Ramayana dalam bentuk macapat nanti.

Dengan demikian kami rasa penting untuk kami sampaikan pagelaran wayang kulit ini sebagai bebuka. Alasan lain adalah, kami mempunyai koleksi ini sudah agak lama dan belum sempat kami bagikan kepada anda di blog kita tercinta ini.

Continue reading

SEKAR MACAPAT SERAT RAMA – Yasadipura 1

Perang Besar Alengka dan Pancawati

Perang Besar Alengka dan Pancawati

Yang akan menjadi menu utama pada posting berikut adalah sebuah karya tulis sastra-bertutur, yang berujud tembang atau dalam bahasa Jawa-nya disebut sekar, Babad Ramawijaya. Penulis kisah sastra tembang ini adalah Kangjeng Sinuhun Yasadipura 1.

Aslinya penulisan ini adalah dalam huruf jawa dan sewaktu kecil penulis pernah melihat kitab ini sebab ayah kami adalah koleksi buku-buku sastra. Namun sangat disayangkan, pada kepindhahan kami sekeluarga yang terakhir kami tinggali di Purwokerto, sejumlah buku koleksi dimakan rayap. Maklum, karena tanah yang dibangun rumah di Purwokerto adalah bekas kebun bambu.

Continue reading

DEWI SINTA 3 – Ki Timbul Hadi Prayitno

garengnyenenitogog_edited-1

Dewi Sinta nglenggana marang apa kang kasandhang dening Raden Rama kang katundhung saka ngarsane kanjeng ramane. Manjing wana katelune, kepapag abdine Prabu Dasamuka kang aran Kala kampana. Kaseser yudane nuli miterang kalawan Togog sapa sejatine mungsuhe. Nalika lagi rembugan, Petruk nguyuhi Togog saka mburi

“…..wong tuwa kok nggo aling-aling nguyuh”. Togog mbalik, ngipatke sarunge sing teles kena uyuhe Petruk.

Nanging Petruk ora krasa salah, njur omong. “Lha, wong ora ana enggon he, Wa…, enenge mung kowe”,

Togog anyel njur muni-muni karo ngancem. “Anake Semar mbejujal dhewe. Ora minggat, kelakon tak wedhung wetengmu, modar kowe!”

Continue reading