MAHABARATA PARTAWIRAYA 30 – Sesaji untuk Kemenangan

TANCEP KAYONAjaran Resi Bisma tentang kewajiban suci itu meliputi banyak hal, diantaranya adalah hak dan kewajiban seorang pemimpin serta hak serta kewajiban sebagai pribadi dan warga masyarakat secara umum.

Pelajaran darma yang begitu panjang dengan sebagian tanya jawab antara Yudistira dan gurunya akhirnya usai. Setelah mengatakan beberapa kata, Sang Guru Besar Bisma kemudian terdiam. Pelajaran luhur itu telah tamat. Setelah perkataan Bisma yang bening dan jelas itu sudah berhenti, suasana menjadi hening tak ada kemerisik bunyi apapun. Semua para raja tidak ada yang berani bergerak terlihat bagai sosok-sosok arca.

Perintah Sang Wiyasa mengatakan bahwa Yudistira harus kembali pulang ke istana terlebih dahulu. Hanya perintah Bisma yang terakhir. “Bila sudah sampai waktunya saya mati, kamu sekalian kembalilah ketempat ini lagi. Prabu, waktu aku meninggalkan kamu semua nanti, adalah ketika matahari sudah mencapai puncak edar disisi selatan dan kembali ke jalurnya  ke sisi utara”.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 29 – Sang Guru Besar, Bisma

.....bagaimana bisa seorang Kresna yang sebenarnya adalah dewa ngejawantah masih saja melakukan samadi......

Yudistira mengunjungi Dwaraka. Sampai disana, Kresna sedang melakukan semedi. Kresna diam dalam semadinya dengan mengenakan busana serba kuning. Ia kelihatan bergelimang cahaya karena pakaian Kresna yang bermanik serba gemerlap. Tambahan lagi, bahwa Kresna yang berkulit hitam adalah sebenarnya tampan dan tidak banyak tandingannya didalam-tribuana sekalipun.

Kedatangan Yudistira dalam keadaan semedi membuat ia diam dan tidak acuh terhadap salam Yudistira. Kresna saat itu ia dalam keadaan terhanyut dalam penyatuannya terhadap tuhannya. Tak dihiraukan, Yudistira menyembah dihadapan Kresna dan membiarkan Kresna selesai dalam samadinya terlebih dahulu.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 28 – Rahasia Kunti

......Drestarastra yang kemudian mendekatinya dan dengan tanpa ragu, diremuknya arca tadi sambil merangkulnya.........Sedih teramat sangat ketika Yudistira mendengar berita kematian para senapatinya. Drupadi yang diberitahu mengenai perilaku Aswatama, bersumpah akan bunuh diri bila Aswatama tidak dibunuh. Ia bahkan tidak lagi akan memakai perhiasan kepalanya yang ia pakai dari lahir, bila sumpahnya tidak terpenuhi.

Bima yang mendengar hal itu hendak memenuhi sumpah Drupadi. Namun sebelum Bima berangkat, Kresna menyarankan agar Yudistira dan Arjuna ikut dalam perjalanan Bima. Yang dikawatirkan oleh Kresna adalah Bima tidak kuat melawan senjata Bramasta kepunyaan Aswatama.

Setelah dicari, Aswatama ditemukan Bima. Aswatama mencabut rumput dan dibacai mantera, rumputpun kemudian berubah jadi senjata sakti. Kresna yang melihat kejadian itu memerintahkan agar Arjuna melawan senjata ciptaan Aswatama dengan ilmu seperti yang diajarkan gurunya, Drona.

Continue reading

BRANTAWATI RABI – Ki Taram

mbareng Petruk ketemu ramane, Prabu Gandarwapati, rasane Petruk kayong dadi plong, aya kuwe....

Nggatekena kepriwe kiprahe Ki Taram sing sekang tlatah Cilacap,ex Karesidenan Banyumas, inyong dadi kemutan agi inyong esih cilik. Nalika semana esih akeh sing nanggap wayang neng desane inyong. Sing tek emut nyatane dudu perkara wayangan sing tek deleng model siki.

Tapi bener loh, ari ngrungokena nuansa wayangane Ki Taram, senajana mung swarane, gaya mayange nggugah memory lawas sing wis capet-capet ilang. Wayangan sing semadya, jan sedherhana basa sikine. Wayangan sing tesih nalika semana “melibatkan” kerukunane wong ndesa sing duwe gawe. Kabeh disranani gotong royong, disengkuyung tangga teparo jangkep gole nyusun upacara, uparengga kambi ubarampe-ne pisan

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 27 – Laskar Terakhir

….masih ada secercah sinar kebahagiaan dimata Duryudana, yaitu kebahagiaan yang terakhir ia rasakan. “Kamu semua adalah orang-orang setia. Berbahagialah, selamat tinggal sampai kita ketemu di sorga. Itulah akhir riwayat Duryudana”......Laskar pilihan Kurawa yang tersisa sekarang tinggal tiga orang. Mereka adalah Krepa, Aswatama dan Kartamarma. Tetapi Duryudana tidak mengetahui bahwa ketiganya masih hidup. Malah ia mengira bahwa ketiganya-pun telah mati.

Begitu ketiga andalan Duryudana diberi kabar oleh Sanjaya dimana persembunyian Duryudana, malamnya mereka menyusul ke tempat persembunyian ditemani oleh Sanjaya. Ketiganya menyarankan agar Duryudana kembali kemedan pertempuran. Tetapi Duryudana tidak mau mengikuti saran mereka karena ia sudah sedemikian leleh dan perbekalan perangnyapun sudah habis.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 26 – Lari Tinggalkan Gelanggang

 

Teringat oleh Bima dimasa itu, ketika Dursasana hilang rasa kesusilaannya dengan mencoba menelanjangi Drupadi. Ia juga ingat sumpahnya bagaimana ia harus bertindak.Karna diwisuda menjadi senapati. Keriuhan peperangan bukannya mereda, tetapi semakin menjadi-jadi. Karna kini berhadapan dengan Nangkula, tentu Karna yang unggul, hingga kusirnya tewas dan kereta serta senjata kepunyaan Nangkula rusak. Tetapi lagi-lagi mengingat bahwa ia telah berjanji dihadapan Kunti untuk tidak akan membunuh Pandawa selain Arjuna, maka Nangkula walau kalah tidak dibunuhnya. Hanya ia dikalungi busur dan dilepaskannya.

Sama dengan keadaan Karna dan Nangkula, walau Yudistira sudah berhasil melukai Duryudana, tapi Yudistira tidak membunuhnya karena mengingat ancaman Bima terhadap Duryudana yang akan membunuhnya dengan tangannya.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 25 – Gugurnya Sang Senapati Muda

bahkan anak lelaki Duryudana  pun tewas ketika nekat hendak melawan sesama senapati muda.

Dalam meningggalkan Sang Bisma yang menjelang terhenti hidupnya, para raja dengan perasaan sedih kemudian menata kembali pasukannya untuk melanjutkan perang. Siapa yang kemudian menggantikan peran Bisma sebagai senapati? Semua prajurit memandang kepada diri Karna yang tidak ikut dalam peperangan selama sepuluh hari permulaan perang. Tiba-tiba terdengan sorak yang diiringi teriakan, “Karna, Karna . . . .”

Karna memang selalu menanti waktu untuk diwisuda menjadi senapati. Tetapi ia terjerat oleh sumpahnya sendiri, yang menyatakan tidak akan ikut dalam perang bila Bisma belum roboh. Ia juga menunggu penunjukan senapati dari Duryudana. Karna memberikan usul, agar Duryudana memberikan pilihan kepada satria yang bisa memainkan segala macam senjata, agar semua prajurit bangkit keberaniannya. Dialah Sang Mahaguru Drona. Semua setuju dan bersorak gembira. Drona diwisuda menjadi senapati memangku segenap wadya Astina.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 24 – Menjelang Masa Kembalinya Dyahu

Ia telah berani membuat korban besar berupa kesengsaraan dalam menjelang tidur panjangnya........Sore itu Yudistira menangis mengingat banyaknya darah yang tertumpah. Kresna menghibur dengan mengatakan, bahwa ia akan melanggar janjinya.  Kresna akan terjun langsung ke kancah perang dengan  membunuh Bisma. Namun Yudistira yang sangat kuat dengan janji, tidak setuju. Apalagi Bisma sudah menyatakan untuk mengatakan bagaimana caranya agar ia dapat dibunuh, bila ia dan saudaranya menghadap kepadanya. Maka seharusnya yang diperbuat adalah, Pandawa harus menghadap Bisma untuk mengetahui kelemahan Bisma yang sudah dijanjikannya untuk diberitahukan kepada Pandawa agar bisa unggul.

Dalam menutup kata di soreitu, Yudistira kelihatan begitu sedih yang mendalam dalam tuturnya. “Sewaktu kami masih kecil-kecil dan tidak berayah, kami dibesarkan oleh beliau. Oh Janardana, eyang kami adalah orang yang sudah begitu tua, apakah kami tega untuk membunuh eyang kami. Inikah yang disebut keburukan bangsa satria?

Continue reading

NAKULA SADEWA GUGAT – Ki Sugino Siswocarito

....Burisrawa dan Rukmarata mbegal Nakula dan Sadewa, setelah Burisrawa telah berhasil mendapatkan pusaka andalan....

Siji maning inyong olih “harta karun” kesenian Wayang Kulit mBanyumasan. Sing siki teka maring blog-e inyong ora nana liya sing tek arep-arep sekang gemiyen. Rekaman lawas Ki Sugino Siswocarito,  lakon Nakula Sadewa Gugat. Sing maringi harta karun utawa neng kene tek arani “kontribusi positif” kanggo kelestarian budaya wayang, ora liya teka sekang paringane Mas Sony Tri Janupati.

Genging panuwun tek aturena karo Mas Sony sing bisa ngrayu Radio Pelangi Nusantara lan Mas Roni sing wis keraya-raya tekan ngumahe inyong, seperlu nglantarena kaset sing wis suwe dadi inceran. Kaset betiti angger diumpamakena tundhunan gedhang pancen wis langka olihe neng pasaran, sebab presasat kabeh kaset sing beredar gemiyen wis entong-entongan debagi neng blog kiye.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 23 – Maka Pecahlah Perang Baratayuda

………mulatmara Sang Arjuna esmu kamanungsan, kasrepan tingkahing mungsuh niran padha kadang taya wawang neh, hana pwa ng anak ing yayah mwang ibu len uwanggeh paman …….

Sesampainya di pakuwon para Pandawa yang dinamai Upalawiya, Sri Kresna menceritakan yang menjadi penutup kisah. Kresna menerangkan, bahwa raja yang berkesamaan pendapat dengan Kurawa sudah mulai berangkat ke Kurusetra. Maka tidak ada maksud lainnya, kecuali perang.

Pada saat itulah mereka saling berrembug, siapakah yang akan diwisuda menjadi pemimpin dari segenap pasukan. Diantara yang menjadi pilihan adalah Prabu Drupada, Prabu Matswa, Drestajumna, Srikandi, Setyaki, Cekitama ataukah Bima . Satu persatu para raja mengatakan pendapatnya, tetapi keputusan terakhir diserahkan kepada Kresna.

Continue reading