MAHABARATA PARTAWIRAYA 22 – Pameran Kekuatan

 

. . . . . . ia melihat lawannya yang semakin lama semakin mengecil. Dari dalam tubuhnya keluar para dewa yang berujud macam-macam mengelilingi dirinya, sehinggga ia mirip matahari berkalang. . . . . .Kresna menyarankan kepada yang hadir agar menangkap Duryudana, Dursasana, Sengkuni dan Karna yang kemudian hendak ia pasrahkan kepada para Pandawa. Tujuan Kresna adalah tindakan pencegahan agar golongan kesatria jangan sampai menemui kebinasaan bila perang nanti akan terjadi. Tetapi Prabu Drestarastra melarangnya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan mencari perlindungan yang terakhir. Ia masih punya harapan kepada Dewi Gendari, istrinya. Ia berharap agar Gendari mengingatkan putranya yang sedemikian keras kepala dan tidak mempunyai tata krama.

Duryudana kemudian dipanggil oleh ibunya untuk kembali. Ia datang dengan muka yang memerah menahan kejengkelannya. Begitu halus kata-kata ibunya agar Duryudana menuruti nasihatnya, tetapi Duryudana hanya diam saja. Malah kemudian ia keluar lagi dengan tidak menyembah kepada ibunya. Ia lebih suka menggenggam keyakinannya yang sasar.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 21 – Penjajakan Perdamaian Terakhir

penjajakan terakhir. kresna mengajak duryudana agar melakukan perdamaian dengan saudara tunggal kakek..

Berbarengan dengan peristiwa itu, di Wiratha, para Pendawa juga sedang membicarakan peristiwa terhangat akhir-akhir ini. Sri Kresna mengatakan, bahwa ia akan menemui Kurawa dengan keperluan memulai perang.

Pada mulanya Yudistira melarang karena ia khawatir bila Kresna mengalami kesulitan nanti. Tetapi setelah Kesawa, mengatakan bahwa siapapun yang ia inginkan kematiannya, maka tidak ada seorangpun yang bisa melarangnya. Yudistira-pun menyetujui kemudian karena alasan itu.

Kresna mengingatkan, bahwa Yudistira adalah seorang satria. Maka nista-lah bila selama hidupnya menjalani pengembaraan dan menjadi peminta-minta. Berangkatnya ia ke Astina adalah untuk merelakan wilayah Astina separo saja dari keseluruhan yang menjadi haknya, dan juga Indraprasta sepenuhnya. Dilain pihak Kresna mengatakan bahwa perang pasti akan terjadi.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 20 – Nasihat Sia-sia

nasihat_vers-0

Dikisahkan bahwa Duryudana dan Arjuna sama-sama ingin dibantu oleh Kresna. Maka pada hari yang sama mereka datang ke Dwaraka. Sesampai di Dwaraka, kebetulan Kresna sedang tidur. Keduanya menunggu bangunnya Sri Kresna. Duryudana menunggu di alun-alun, sementara Arjuna duduk bersila didekat kaki pembaringan Sri Kresna.

Ketika Kresna terbangun maka dilihatnya Arjuna terlebih dulu, baru kemudian Duryudana yang tahu Kresna sudah bangun juga mendekati Kresna. Sejenak berbasa basi, Mereka ditanyai kenapa datang ke Dwaraka selagi yang lain sedang dalam kerepotan?

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 19 – Terbebas

senapati kandiwrahantnala

Mengetahui bahwa negaranya diserang musuh, Prabu Matswa menyiapkan pasukan perangnya. Yudistira, Bima, Nangkula dan Sahadewa juga ikut dalam persiapan pertempuran. Prajurit Triagata yang datang terlebih dulu telah mengepung Wiratha. Pertempuran sengit-pun terjadi.

Terlihatlah kemudian, bahwa prajurit Wiratha terdesak hingga Prabu Matswa tertangkap. Melihat junjungannya tertawan, Pandawa menerjunkan diri ke kancah peperangan. Keadaan menjadi berbalik. Sekarang pasukan Wiratha yang berhasil memukul mundur pasukan Trigata, dan merebut Prabu Matswa dari tawanan musuh.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 18 – Bukan Salah Kincaka

cintakencakarupavers1ed-2

Pandawa sudah sepakat akan mengabdi kepada Prabu Matswa, atau Matswapati, raja Wiratha. Yudistira menanyakan kepada adik-adiknya akan menyamar sebagai apa. Yudistira sendiri memilih menjadi brahmana bernama Kangka*). Dan yang akan ia dilakukan adalah menyebarkan pengetahuan mengenai permainan judi dadu. Harapannya agar ia dapat menjadi pejabat dalam istana.

Bima akan menyamar menjadi juru masak dan tukang pukul, dan akan mengaku bernama Balawa. Sedangkan Arjuna teringat akan perintah Sang Hyang Indra dan kutuk bidadari Uruwasi, maka ia akan menyamar menjadi seorang wadam dan menamakan dirinya Wrahatnala. Ia menyamar menjadi wadam karena bermaksud untuk dekat dengan para emban di keputren yang akan mengajarkan tari, karawitan dan nyanyian.

Sedangkan Nangkula akan menyamar menjadi pengurus kuda dan bernama Granti dan Sadewa akan bernama Tantripala dengan pekerjaan sebagai gembala lembu.

Continue reading

BONDHAN PAKSA JANDHU – Ki Kondho Murdiyat.

bondhanpaksajandhu_vers0-1

Kerjasama antara Radio Mutiara Bandung dengan Paguyuban Pecinta Wayang.

Lakon Bondhan Paksa Jandhu atau Pasar Anyar Astina dan pembawaan Dhalang Ki Kondho Murdiyat ini sebetulnya sudah kami post di wayangprabu beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena linknya yang saya simpan di jumbofile sudah lama musnah dan baru saya sadari bahwa lakon ini juga tersimpan disana, maka saya perlukan untuk repost.

Pada sampul kaset Bondan Paksa Jandhu tertulis, dalang adalah Ki Kondho Murdi. Saya sampai menanyakan ke Pak Ali Mustofa, apakah beliau yang bernama Ki Kondho Murdiyat? Juga dituliskan   “Wayang Kulonan”, mungkin yang dimaksud disini adalah wayang yang hidup secara geografis di Jawa – Timur, tetapi secara gagrak pagelarannya berkiblat ke Jawa – Tengah. Dan ternyata memang benar, Ki Kondho Murdiyat ini sangat bergaya Surakarta. Bahkan terdengar kombangan suluknya sangat dekat gaya olah vocalnya dengan Ki Nartosabdo. Yang membedakan hanya vibrasinya yang kelewat tremoloes.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 17 – Yang Terbujuk dan Yang Tercerahkan

 

bujuk_para_asura_vers-3Yudistira mengatakan demikian hanya untuk memperingatkan, bahwa Duryudana adalah tunggal darah dengan dirinya. Duryudana pulang dengan perasaan sedih. Pertama ia merasa kalah perang, keduanya, ia malu, bahwa ia telah dibebaskan dari tawanan oleh Yudistira, orang yang sebelumnya ia niatkan untuk dibunuhnya.

Pada saat Duryudana telah kembali ke Astna, ia duduk melamun sendirian. Karna yang melihat Duryudana telah kembali buru-buru mendekatinya . Karna menyangka bahwa Duryudana kembali karena sudah unggul dalam peperangan. Dipujinya Duryudana yang bisa mengalahkan gandarwa, padahal dirinya malah melarikan diri.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 16 – Perjalanan Tamasya

anoman_lan_wrekudara_vers-1_-1Anoman mengatakan kepada satria muda yang baru datang itu, bahwa jalan yang akan Bima lalui adalah jalan para dewa. Maka menurut kera putih itu, hanya petapalah yang boleh melewatinya.

Bima menanyakan nama Anoman sambil mengenalkan diri dan dari keturunan apa keluarganya dengan sombong. Anomanpun mengenalkan dirinya, bahwa ia adalah sebangsa kera. “Aku bertanya, dan sekaligus mengingatkan, bila kamu ingin selamat, sebaiknya kamu pulang saja”.

Tentu saja Bima marah sambil bersikap, agar Anoman menyingkir. Anoman mengatakan bahwa badannya sakit bila bangun dan berdiri. Tetapi Bima tetap memaksa agar Anoman menyingkir saja dan Anoman yang pura-pura sakit sebenarnya juga mau menyingkir. Tetapi ia mengatakan, bahwa boleh Bima lewat, tetapi jangan sampai ia menginjak buntutnya. Anoman menambahkan, bila hendak lewat singkirkan dulu buntutnya.

Continue reading

PENDAWA NGENGER – Sebuah Bahasan II

pandhawangenger2Untuk melengkapi cerita mengenai Dewi Uruwasi yang ditolak cintanya oleh Arjuna pada Mahabarata Partawiraya 15 lalu, kami sampaikan bandingan cerita yang kurang lebih sama dalam tulisan ini. Pagelaran Pandawa Ngenger oleh Ki Nartosabdo yang kami pilihkan untuk melengkapi.

Pada tulisan mengenai bahasan Pandawa Ngenger 1 sudah dibicarakan mengenai keindahan pagelaran klasik dari empu pedalangan, Ki Nartosabdo. Keindahan sanggit yang tentunya tidak diragukan lagi seperti yang pernah saya sebutkan terdahulu. Keindahan sanggit yang mampu membuat penonton terhanyut oleh aliran cerita yang melenakan.

Pada bagian manyura dari lakon Pandawa Ngenger, ditemukan lagi suatu adegan yang membuat kita menahan napas karena keindahan serta kepiawaian Ki Narto dalam mengolah sastra tuturnya. Antawecana yang digarap apik membuat kita terkagum oleh “muluk”nya sanggit rayuan para bidadari. Inilah segmen adegan dimana Arjuna yang kewalahan meladeni rayuan para hapsari agar mereka dilayaninya.

Continue reading

MAHABARATA PARTAWIRAYA 15 – Nugraha dari Sang Mahadewa

mintaraga2-2

Pendeta itu meminta agar Arjuna meletakkan busur dan anak panahnya. ia mengatakan bahwa Arjuna sudah memasuki tempat yang bernuansa tentram dan damai. Tetapi Arjuna tidak mau dirinya terpisahkan dari senjatanya. Walau sudah dimintanya agar senjata diletakkan, Arjuna tetap bergeming dengan sikapnya. Pendeta yang sudah berkali-kali meminta Arjuna meletakkan senjata, akhirnya berubah ujud menjadi Sang Hyang Indra.

Duduk takzim Arjuna dihadapan Batara Indra dan mengatakan, bahwa ia mohon untuk memperoleh senjata para dewa. Indra tersenyum, ia berkata, bahwa tidak akan memberikan senjata sama sekali. Tetapi Batara Indra mengatakan bahwa Arjuna akan mendapat anugrah ditempat yang mulia, yang pasti menjadi idaman semua orang.

Continue reading