18. Kinanthi 37 Pada – Serat Rama Yasadipura 1

.............dupa kumêlun | ngêningkên tyas sang apêkik | kawêngku sagung jajahan | nanging sangêt angikibi | Sang Rêsi Kanekaputra | kang anjog saking wiyati ...........

……..kukusing dupa kumêlun | ngêningkên tyas sang apêkik | kawêngku sagung jajahan | nanging sangêt angikibi | Sang Rêsi Kanekaputra | kang anjog saking wiyati ………..

Rama dan Leksmana terus mengarahkan langkahnya dikawal oleh Endrajanu, Winata, Anila dan Satabali. Mereka diiring juga dengan sejuta laskar kera yang akan bekerja membuat padepokan di sebelah timur laut kaki gunung Malyawan. Padepokan berdiri itu di tengah-tengah dataran seluas limaratus cengkal, lengkap dengan air terjunnya yang indah.

Endrajanu, Winata, Anila dan Satabali sangat kasihan melihat Rama berjalan seperti orang yang keberatan menanggung beban asmara terhadap Sang Putri Mantili. Seperti ketika mereka melihat Rama terkejut karena hanya mendengar kokok merak atau menjadi berdebaran hatinya melihat cengongong yang berkelebat lari melintas di depannya.

Continue reading

GENDREH KENCANA – Ki Alip Suwardjono.

…… yen tak akoni, aku tresna karo sliramu, nanging apa wong tresna kuwi kudu nduweni, Banowati?.....

…… yen tak akoni, aku tresna karo sliramu, nanging apa wong tresna kuwi kudu nduweni, Banowati…………..?

Satu lagi pagalaran dari Ki Alip Suwardjono atau biasa disebut Ki Jono, yang kami dapatkan dari koleksi Radio Samhan AM630- Jakarta, dengan lakon Gendreh Kencana.

Audio lakon ini kami dapatkan dalam keadaan sudah dalam file MP3, dan kami sajikan seutuhnya tanpa ada touch-up sedikitpun dalam hal alur cerita, hanya kami kecilkan saja bit rate-nya agar enteng up atau down-loadnya. Mengapa demikian? Karena sebetulnya lebar pita band audio ini kedengaran sempit, pula tonalnya adalah mono. Sehingga sayang bandwidth kenyataannya kalau aslinya yang bit rate 128kbps sia-sia ibarat ceponè gedhè tapi seganè mung seuprit.

Continue reading

17. Sinom, 21 Pada – Serat Rama Yasadipura 1

......pangrunguningong sirèki | wre nistha tar parikrama | Sugriwa sira alani | sira misahkên nguni | Sugriwa lan garwanipun | Dèwi Tara sira lap .......

……pangrunguningong sirèki | wre nistha tar parikrama | Sugriwa sira alani | sira misahkên nguni | Sugriwa lan garwanipun | Dèwi Tara sira lap …….

“Aku Ramawijaya, satria dari Ayodya, anak dari Prabu Dasarata”, jawab Ramawijaya.

Dengan napas yang sudah satu-satu, Subali kembali berkata ketus walau luka mendera dadanya, “Heh Rama, mengapa sebagai seorang satria, tetapi perbuatanmu sedemikian nista? Apa dosaku sehingga memanahku tanpa mengetahui terlebih dahulu apa duduk masalahnya? Bukankan lebih baik bila kamu mendengarkan dahulu keterangan dari pihakku? Sehingga kamu akan mengetahui secara berimbang mana sebetulnya yang benar dan yang salah. . .

Continue reading

16. Pangkur 30 Pada – Serat Rama Yasadipura 1

....sigra mijil sira wanara Bali | horêg sagung wre andulu | wêdale Bali Raja | sigra parêng mangsah têmpuh rok parêng hrug ....

….sigra mijil sira wanara Bali | horêg sagung wre andulu | wêdale Bali Raja | sigra parêng mangsah têmpuh rok parêng hrug ….

Keindahan Gunung Maliawan, setelah kedatangan kedua satria diibaratkan seperti Sugriwa yang selama ini kepanasan karena matahari, kini terasa teduh. Subali itulah matahari yang selalu memanggang tubuh dan jiwa Sugriwa. Kedatangan Rama dengan senjata panahnya membuat panas matahari itu tidak lagi menyiksa Sugriwa, seperti panas matahari tertutup mega.

Rama bangga dengan apa yang dilihatnya di Gunung Maliawan ini. Keyakinannya akan berhasil merebut kembali Sinta semakin besar. Ia bangga mendapatkan mitra dengan wujud dipati kera yang wujudnya mengerikan. Sedang, kera yang berujud kecilpun terlihat menyenangkan, pating palangkruk mengalungkan kacang , cengkir, tebunya dipundaknya, serta banyak lagi tingkah laku kera kecil lannya, misalnyamenunggu pedupaan dengan membakar ratus wangi, sehingga membuatnya terhibur.

Continue reading

CUPU MANIK ASTAGINA – Ki Prasetya Bayu Aji

cupumanikastagina1rev0_edited-1

Untuk sekedar melengkapi dedongengan mengenai kisah Rama yang tertuang dalam wujud sekar macapat anggitan SinuwunYasadipura 1, akan kami share suatu lakon yang ada hubungannya dengan latar belakang Subali dan Sugriwa yang tidak diceritakan dalam pupuh-pupuh macapat Serat Rama tersebut.

Perlu diketahui, memang pada kidung macapatan ini, banyak bab yang tidak diceritakan latar belakangnya. Misalnya kelahiran anak-anak Alengka bersaudara, asal mula Dasarata, atau asal muasal Subali dan Sugriwa seperti yang saya sebut diatas. Dalam kisah pepanggungan wayang purwa sebagai pelengkap ini, juga terdapat cerita mengenai Negara Guwa Kiskendha semasa hidupnya Mahesasura dan Lembusura.

Continue reading

15. Dhandhanggula 39 Pada – Serat Rama Yasadipura 1

..... jisime wadhag wêraha kari | gêtihing jisim pan ingsun pangan | daging sarta lan kulite | marmane kêna ingsun | ing prihatin rupa lir mangsi .....

….. jisime wadhag wêraha kari | gêtihing jisim pan ingsun pangan | daging sarta lan kulite | marmane kêna ingsun | ing prihatin rupa lir mangsi …..

Suwaribrangti menanggapi perkataan Ramawijaya, “ Tidak hanya kamu saja yang kembali pulang dari hadapanku yang mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Aku katakan mengapa aku melakukan hal ini. Ada yang mengajakku, dialah istri Sang Wisnu. Dahulu ia terkena murka Batara Guru ketika menjadi seorang juru tari kahyangan.

Ketika itu Sang Hyang Guru mengundang para dewa dengan masing masing pasangannya. Waktu itu istri Sang Hyang Wisnu berbuat kesalahan dalam perhelatan itu, sehingga ia diusir dari Kahyangan dan menjadi serupa babi hutan. Kemudian ia berdiam di suatu gunung dan mengajakku sebagai peliharaannya”.

Continue reading

14. Sinom 36 Pada – Serat Rama Yasadipura

......amanggih ditya nèng margi | bahu panjang tan sipi | anama pun Dirgabahu | gung môngsa buron wana ....

……amanggih ditya nèng margi | bahu panjang tan sipi | anama pun Dirgabahu | gung môngsa buron wana ….

Dengan perasaan puas, Ramawijaya kembali berjalan didampingi oleh Leksamana yang masing masing menyandang busurnya. Pada saat istirahatnya, mereka tidak melupakan bersemadi dengan meminta kemurahan dewa.

Ketika perjalanan dilanjutkan, mereka melihat seekor burung yang besarnya bagai anak gunung. Tetapi kelihatan, bahwa ia kehilangan sebelah sayapnya. Rama berkata, “Adikku, ada seekor burung raksasa. Mari kita lihat”.

Continue reading

13. Mijil 32 Pada – Serat Rama Yasadipura1

. . . . . imbuh pupul tiwikrama wêrdi | wudhar widigdamot | satruning rat Sang Galamarangke .....

…… imbuh pupul tiwikrama wêrdi | wudhar widigdamot | satruning rat Sang Galamarangke …..

Sampai kita di Pupuh ke 13, dengan sekar Mijil. Sekar Mijil sudah pernah kami sampaikan sebelumnya, tapi belum sempat saya menjlentrehkan aturannya.  Awer-awernya sebagai berikut.

Jumlah baris ada 6 baris dengan jumlah suku kata yang dihubungkan dengan akhiran vokal pada setiap barisnya yang bila dituliskan akan dirangkai sebagai berikut: 10 i,  10 o,  11 é/è,  10 i,  6 i,  6 u.

Terlebih dulu kita baca, ya, kira-kira isi Pupuh ke 13 Serat Rama Yasadipura1 dibawah ini:

Terkisah, tangis sedih dari Ramawijaya sedemikian menghujam dalam rusuhnya hati. Sedih dan rusuhnya hati itu terbakar lebur dalam rasa prihatin yang mendalam. Terdiam membisu, Sang Ramawijaya dengan pikiran kosong, ketika gerimis turun disertai suasana senyap. Gerimis itu semakin membuat alam pikir Rama semakin terkungkung dalam sepinya asmara.

Continue reading

PARTA KRAMA – Ki Anom Suroto.

usaha Gathutkaca dalam mendapatkan kerbau pancalpanggung yang berjumlah 140 ekor

usaha Gathutkaca dalam mendapatkan kerbau pancalpanggung yang berjumlah 140 ekor

Dengan kalimat yang hati-hati, Prabu Baladewa menanyakan kepada Kresna, adiknya, tentang keadaan Bratajaya alias Dewi Sumbadra adik bungsunya. Memang mengenai Sumbadra, bahwa selama ini Sumbadra alias Bratajaya ada dalam pengasuhan Kresna di Dwarawati. Sumbadra memang selama ini lebih lengket kepada kakak kedua, Kresna ketimbang Baladewa, kakak pertamanya.

Kalimat kalimat yang menyinggung keberadaan Sumbadra dengan kehati-hatian oleh Baladewa, adalah ditujukan muaranya kepada tugas yang diemban oleh Prabu Duryudana, untuk melamarkan adik ipar, yaitu Burisrawa. Burisrawa juga adalah adik ipar Baladewa, karena mereka, Baladewa dan Duryudana adalah beristri putri-putri Mandaraka yang juga kakak Burisrawa.

Continue reading

12 – Kinanthi, 32 Pada – Serat Rama Yasadipura 1

. . . . . . anon kêmbang-kêmbang gandrung | jiwaku ari Mantili | dingarèn angalap sêkar | dene nora dèn wadhahi .....

. . . . . . anon kêmbang-kêmbang gandrung | jiwaku ari Mantili | dingarèn angalap sêkar | dene nora dèn wadhahi …..

Begitu Ramawijaya sadar, dirasa hatinya sedemikian hancur. Kini ia bagaikan terkena sejumlah anak panah Bathara Kamajaya yang mengandung kemayan asmara. Ia merasakan sakitnya asmara yang menghujam bagaikan keris yang tetanam merasuk kedalam hati. Matahari terlihat suram merundung jagatnya, dan ia tidak lagi mampu melihat jernihnya angkasa.

Dirabanya dada itu dan mulailah Rama bergeramang, “Duh Sinta, tega benar kamu meninggalanku. Kamulah sarana penawar jiwa. Dimanakah kamu, Sinta, pengobat jiwaku yang menderita asmara. Katakan, Sinta, bahwa dewa-dewi Endrabawana, tidak mampu mereka mengobati rinduku. Kamulah seorang, belahan jiwaku yang bisa mengobati derita asmaraku. Dicari dimanapun bahkan hingga ke Endraolka dan Bramaloka, dan aku temukan seorang wanita berujud Dewi Rarasati-pun, ia hanya pantas menjadi dayang pengiringmu. Kamulah seorang yang pantas menjadi ratu bumi.

Continue reading