KRESNA KEMBAR – Ki Surono.

Rekaman wayang dari Ki Surono yang lahir di Madukara, Banjarnegara 27 Oktober 1921 ini bagi saya merupakan sebuah serpihan kencana. Satu lagi file yang ditemukan diantara sekian banyak rekaman Ki Surono Hadisaroyo nama lengkapnya, sejatinya adalah mozaik kencana yang tercecer. Bagaimana tidak, rekaman Ki Surono sebenarnya sangat banyak. Mungkin bila dibandingkan dengan rekaman dalang kawentar lain di tlatah mBanyumas bisa dikatakan berimbang banyaknya. Bisa disebut demikian, karena setelah beliau dilepas dari sebuah peradilan yang tidak adil, maka hampir setiap pagelaran harus menyetor rekamannya ke pihak militer waktu itu dengan dalih monitoring.

Baca lebih lanjut

30. SINOM, Paramayoga – Sasraningrat

Prabu Sri Mapunggung myarsa | yèn wontên bantu gêng prapti | sanalika datan samar | yèn puniku kang sudarmi | nulya mêthuk ananging | sangêt dènnya sugun-sugun | sawadyanya tan ana | kang sikêp astraning jurit | Prabu Sri Mapunggung tansah atur sêmbah ||

Pada tahun 272 yang disengkala sebagai kalimat sukuning gunung sinembah, Brahmadewa Esa naik tahta di Negara Gilingaya. Sedangkan Gilingaya sendiri adalah dahulunya bernama Gilingwesi yang dikendalikan oleh Sang Prabu Kadhali Brahma.

Tidak berapa lama kemudian, Sri Dewa Esa ingin membagi kerajaannya kepada para putra-putranya.

Baca lebih lanjut

29. GAMBUH, Paramayoga – Sasraningrat

dhuh pukulun sang prabu | amba dinutèng narendra ulun | ing paduka anyuwun sajatining sri | duk myarsa sang nata bêndu | salah tampinirèng batos ||

Tidak lama berada di Purwacarita, saking menahan rasa malu, Bathara Raksikadi kemudian malah pulang kembali ke tanah Hindi.

Beralih cerita di Kaendran. Pada saat itu terlihat adanya cahaya terang menyilaukan. Cahaya itu kemudian dimanterai oleh para jawata dan akhirnya terlihat, bahwa cahaya itu lama kelamaan berubah terlihat menjadi wujud tujuh bidadari. Mereka masing-masing mengaku bernama Dewi Supraba, Dyah Wilutama, Warsiki, Surendra, kemudian Tunjungbiru. Juga mereka ada yang bernama Dewi Gagarmayang, dan Irim-irim.

Baca lebih lanjut

28. DURMA, Paramayoga – Sasraningrat

Prabu Budhawaka rakit glaring yuda | dhawuh nguluk-uluki | astra guntur brama | Sang Prabu Budhakrêsna | swarèng wadya amalêsi | nulya umangsah | ngangsêk caruk ingungkih ||

Sementara itu Prabu Budhakresna mengganti nama Negara yang diperoleh dari Sang Aji Berawa dengan nama Negara Purwacarita.

***

Diceritakan, setelah memboyong  Dyah Brahmaniari, beberapa lama kemudian, Prabu Jambuwana datang kembali ke Gilingwesi. Ia mendatangi Gilingwesi dengan wadya balanya yang jumlahnya tidak terbilang. Ternyata ada masalah ketika ia diceritai oleh istrinya, bahwa pada waktu lalu, mertuanya telah dikalahkan oleh raja Purwacarita.

Baca lebih lanjut

Baratayuda 31 – …. dan Perang-pun Berakhir…..

Di Grojogan Sewu, Prabu Baladewa bertapa memuja ke hadapan Dewa, agar diberikanlah kerukunan antara saudara saudaranya Kurawa dan Pandawa. Ketika itulah Kresna sudah sampai di tempat Prabu Baladewa bersemedi.

“Dosa besarlah namanya, Werkudara, bila seseorang membangunkan orang yang sedang bertapa. Tetapi kali ini ada hal yang tidak dapat ditunda lagi. Mari adikku, bantu aku mengheningkan cipta untuk membangunkan kanda Baladewa dengan aji Pameling”. Kata Kresna kepada Werkudara setelah berada di hadapan Prabu Baladewa yang selalu dijaga putranya Raden Setyaka.

Baca lebih lanjut

27. PANGKUR, Paramayoga – Sasraningrat

sarta matur lamun arsa | angulati ing Dyah Brahmaniari | Hyang Anantaboga muwus | Rasikadi wruhanta | Dyah Brahmaniari kang nyingitkên ingsun | arsa ngong dhaubkên lawan | putrèngsun Sang Hyang Basuki ||

Sarta matur lamun arsa | angulati ing Dyah Brahmaniari | Hyang Anantaboga muwus | Rasikadi wruhanta | Dyah Brahmaniari kang nyingitkên ingsun | arsa ngong dhaubkên lawan | putrèngsun Sang Hyang Basuki ||

Terjadilah perang di Medhangsewanda. Prabu Budhawaka kalah dan melarikan diri dan mengungsi di Medhanggili. Di Negara Medhanggili ia kemudian bertahta dan Medhanggili diubah namanya menjadi Gilingwesi.

***

Sementara itu di Medhangkamulan, Prabu Berawa tidak berhenti ingin meluaskan jajahan. Ia bermaksud untuk menyerang istana Surapati. Bathara Sukskadi dan adik-adiknya yang sudah mengabdi menjadi penasihat raja dengan keras hati mencegah perbuatan Prabu Berawa. Demikian juga dengan Patih Saraita tidak setuju dengan penyerangan yang direncanakan itu. Tetapi saran dari para penasihat tidak digubris Prabu Berawa. Maka kebijaksanaan tindakan raja kembali diserahkan kepada Prabu Berawa apapun yang hendak dilakukan.

Baca lebih lanjut

26. DHANDHANGGULA, Paramayoga – Sasraningrat

Maharaja Balya lan sang patih | kasalad ing dahana upama | binalang sèwu srêngenge | gya mugswa kalihipun | wangsul dadya jawata malih | ya ta sang narpakênya | ratuning lêlêmbut | sarwi marêk lan karuna |

Maharaja Balya lan sang patih | kasalad ing dahana upama | binalang sèwu srêngenge | gya mugswa kalihipun | wangsul dadya jawata malih | ya ta sang narpakênya | ratuning lêlêmbut | sarwi marêk lan karuna |

Desakan hati disertai dengan kemauan kuat untuk menaklukan penyebar agama baru, Sri Balya mengutus abdinya agar memanggil seorang resi yang baru saja datang ke Tanah Jawa. Dialah seorang resi sakti bernama Resi Kuramba. Yang diutus sebagai duta berhasil menemui Sang Resi, tetapi duta itu tidak mampu memboyong Sang Resi ke hadapan Prabu Balya. Utusan itu dikalahkan oleh pengaribawanya hingga ia kembali menghadap Sang Prabu Balya dengan tangan kosong. Utusan tersebut mengatakan, perjalanannya telah gagal bahkan ia menceritakan bahwa Resi Kuramba menyanjung kehebatan yang dimiliki Hyang Kala.

Baca lebih lanjut

25. GIRISA, Paramayoga – Sasraningrat

semartogog0217_edited2

Saksana Sang Hyang Antaga | manggihi Bathara Sêmar | minta mrih ywa pinaeka | kang dadi karêpe Kala | dènirarsa amêmôngsa | rèh wus kalihan wawênang | kang pancèn kêna minôngsa | Hyang Sêmar lon nambung sabda ||

Demikianlah, Hyang Girinata sudah mengatakan kepada Hyang Kala, bahwa semua makluk hidup yang mempunyai jenis dan perilaku seperti yang sudah dikatakan didepan, maka sudah diperintahkan; “Makanlah. Tapi bila ada kebijaksanaanmu, golongan yang bisa kamu makan akan luput dari tindakanmu hanya karena keberuntungannya saja. Artinya, semua yang disebut didepan, mereka adalah makananmu sehingga kamu gampang untuk mandapatkan makananmu itu. Satu hal lagi yang perlu diingat, bila manusia yang baik budinya, maka mereka tidak boleh kamu perlakukan buruk selama-lamanya, artinya jangan kamu makan”. Demikian pengingat yang diberikan oleh Bathara Guru, terhadap anaknya.

Baca lebih lanjut

ANEKA GENDHING JAWA 3 – Lelangen Gendhing-gendhing Jawi……

lelangengendhingjawi_edited-1

Lagi… saya bagikan koleksi gendhing jawa yang ada dalam file convert saya. Tentu saja diantaranya ada suara emas yang dilantunkan oleh Nyi Condrolukito. Maka pada edisi share files di kesempatan kali ini, Nyi Condrolukito kami jadikan sampul illustrasinya. Tentu yang terbersit dalam benak anda para rawuh di blog ini adalah suara khas Nyi Condro ketika melagukan gendhing Kutut Manggung, atau Glathik Glindhing. Tapi kali ini yang ada pada file share kali ini, yang saya tampilkan adalah Jineman Uler Kambamg. Ya… saat beliau mengalunkan lagu-lagu tersebut dengan iringan gamelan yang ditata baik tone balance-nya, saat itulah gendhing Jawa tengah dalam masa kejayaannya.

Baca lebih lanjut

24. MASKUMAMBANG, Paramayoga – Sasraningrat.

. ..yeka môngka pangane Hyang Kala pêsthi | dadya rad-aradan | yogyane dipun singkiri | girisa tyase Hyang Kala ||

. ..yeka môngka pangane Hyang Kala pêsthi | dadya rad-aradan | yogyane dipun singkiri | girisa tyase Hyang Kala ||

Mangsa lain dari Bathara Kala yang telah disebutkan sebelumnya adalah; orang yang membakar tulang, membakar kulit bawang, membakar kayu kelor dan kulit pohon dadap. Juga orang yang membakar munthu, irus, enthong, iyan, juga sapu yang telah rusak. Orang yang membuang ketinggi yang masih hidup, orang yang membuang garam, orang yang membuang nasi, kuah lauk, sayur dan sisa makanan dan juga orang yang tidur dengan membungkus tapak kakinya.

Baca lebih lanjut