24. MASKUMAMBANG, Paramayoga – Sasraningrat.

. ..yeka môngka pangane Hyang Kala pêsthi | dadya rad-aradan | yogyane dipun singkiri | girisa tyase Hyang Kala ||

. ..yeka môngka pangane Hyang Kala pêsthi | dadya rad-aradan | yogyane dipun singkiri | girisa tyase Hyang Kala ||

Mangsa lain dari Bathara Kala yang telah disebutkan sebelumnya adalah; orang yang membakar tulang, membakar kulit bawang, membakar kayu kelor dan kulit pohon dadap. Juga orang yang membakar munthu, irus, enthong, iyan, juga sapu yang telah rusak. Orang yang membuang ketinggi yang masih hidup, orang yang membuang garam, orang yang membuang nasi, kuah lauk, sayur dan sisa makanan dan juga orang yang tidur dengan membungkus tapak kakinya.

Baca lebih lanjut

23. KINANTHI, Paramayoga – Sasraningrat.

hèh Hyang Gôngga wruhanamu | kabèh bêburoning warih | iku wênang sun misesa | kang tanpa dosa sadêrmi | Hyang Gôngga kèndêl gya kesah | tan lami angsal pambudi ||

hèh Hyang Gôngga wruhanamu | kabèh bêburoning warih | iku wênang sun misesa | kang tanpa dosa sadêrmi | Hyang Gôngga kèndêl gya kesah | tan lami angsal pambudi ||

Sudah sekian lama kedua raja yang bertahta di Pulau Jawa, ketika Sang Hyang Kala turun ke arcapada. Hyang Kala turun ke samudra memangsa segenap ikan didalamnya. Dewa penguasa samudra sangat sedih melihat Kala dengan tanpa ampun melahap sekian banyak makhluk di dalam air. Maka ia menghadang Bathara Kala dan menyarankan agar ia makan makluk darat saja.

“Hyang Gongga, ketahuilah, bahwa aku sudah diwenangkan untuk memangsa apapun dan siapapun walau mereka tidak ada dosa” demikian kata Hyang Kala.

Baca lebih lanjut

22. SINOM, Paramayoga – Sasraningrat.

..... ingamuk wani sinundhang | ingundha kinarya undhi | sruning miris kèhing macan | prasêtya salami-lami | tan nêdya wani-wani | marang andaka sawêgung | kunêng ing Mêdhangpura | kocap wontên mina aji | marêk marang byantarèng Sri Matswapatya ....

….. ingamuk wani sinundhang | ingundha kinarya undhi | sruning miris kèhing macan | prasêtya salami-lami | tan nêdya wani-wani | marang andaka sawêgung | kunêng ing Mêdhangpura | kocap wontên mina aji | marêk marang byantarèng Sri Matswapatya ….

Prabu Sundha atau Hyang Brahma yang berkuasa di Medhanggili ditugaskan oleh para brahmana untuk mengatur manusia, raksasa dan para resi. Ia diberi nama baru Sri Maharaja Patra. Kemudian Hyang Sakra di  Medhanggana ditugasi menguasai para resi dan dewa. Ia juga diberikan nama baru yaitu Maharaja Surapati. Sementara Prabu Suman atau Hyang Wisnu yang merupakan raja di Medhangpura ditugasi menguasai sebangsa ikan dan diberi nama baru Maharaja Matswapati. Sedangkan Raja Bima dari Negara Medhanggana ditugasi untuk menguasai hewan buas di hutan dan diberi julukan Maharaja Mergapati.

Seluruh para raja sudah diberi tugasnya masing-masing dan mereka diminta pulang ke negaranya dengan beban yang sudah ditugaskan. Saat para raja sudah pulang, para brahmana mukswa dan kembali ke kahyangan. Yang tersisa hanya tinggal Brahmana Bahlika di Tanah Jawa.

Baca lebih lanjut

Baratayuda [31] – Matinya seorang Tukang Kipas…..

Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni.

Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni.

Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.

Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.

Baca lebih lanjut

Baratayuda [30] – Sang Senapati Terakhir

“Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati.......

“Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati…….

Kesunyian kembali menggenang, keputus-asaan Kresna membuat ia tak kuasa untuk memutar otak yang seakan kusut. Tapi tiba tiba Puntadewa berkata, “Kanda, bila hamba diminta menjadi senapati menandingi senapati dari Astina hamba sanggup, tetapi hamba harus tetap kalis dari dosa. Hamba sanggup melakukan itu bila jaminan itu ada, kanda”.

Terang pikiran Prabu Kresna seketika mendengar kalimat kalimat yang tak terduga meluncur dari bibir Prabu Punta. Maka dengan sepenuh hati ia meyakinkan keinginan yang tertuang dari hati Prabu Puntadewa. “Baiklah dinda, saya pastikan dinda akan tetap suci dan tidak terlumuri dosa. Hal itu akan terjadi, bila yang memerintah paduka adalah Sang Hyang Wisnu. Lihatlah dinda, kanda akan memperlihatkan diri dalam bentuk Wisnu, dan dengarkan apa yang pukulun Sang Hyang Wisnu hendak katakan”.

Baca lebih lanjut

Baratayuda [29] – Bujuk Rayu Sang Bebotoh

“Adikku, ini adalah perang Baratayuda. Yang sudah banyak memakan korban, bukan saja dari prajurit kecil, tapi sudah meluas mengorbankan para orang orang tua kita dan anak anak kita yang harus kita lindungi dan orang yang seharusnya kita beri kemukten........

“Adikku, ini adalah perang Baratayuda. Yang sudah banyak memakan korban, bukan saja dari prajurit kecil, tapi sudah meluas mengorbankan para orang orang tua kita dan anak anak kita yang harus kita lindungi dan orang yang seharusnya kita beri kemukten……..

“Raden!  Raden sudah mendengar sendiri keluhan dari Candhabirawa. Maka bila raden berkenan untuk diikuti oleh Candhabirawa bersama dengan kesaktiannya yang tiada tara, maka Raden harus berjanji sekali lagi untuk menyanggupi permintaan Aji Candhabirawa”. Sekali lagi Begawan Bagaspati hendak meyakinkan, sikap Narasoma atas tawarannya.

“Akan aku penuhi perminatanmu Begawan, dengan segala kemampuan yang ada padaku. Apakah permintaannya?”, Narasoma menyanggupi permintaan Begawan Bagaspati tanpa berpikir panjang lagi. Ajian yang begitu hebat telah melambungkan angannya, yang terbayang di rongga kepalanya hanya ada satu hal, ia akan menjadi orang yang sangat dibanggakan di muka bumi.

Baca lebih lanjut

21. ASMARANDANA, Paramayoga – Sasraningrat

nulya sabiyantu sami | nêgês karsaning bathara | tan adangu ana katon | pawèstri endah warnanya | dinangu namanira | mangkana nulya umatur | Dèwi Pratiwi wastanya ||

nulya sabiyantu sami | nêgês karsaning bathara | tan adangu ana katon | pawèstri endah warnanya | dinangu namanira | mangkana nulya umatur | Dèwi Pratiwi wastanya ||

Prabu Sundha atau Sang Hyang Brahma sedemikian bingung dengan keadaan ini. Dua wanita yang menjadi rebutan anak lelakinya yang berjumlah sembilan itu menjadikan dirinya mengambil keputusan untuk mengadu ke Hyang Suksma.

Tidak lama dalam samadinya, ada secarik surat melayang dari angkasa. Isi surat itu sangat samar dan tak bisa dibaca maksudnya. Dipanggillah putra-putranya menghadap untuk menyingkap arti dari tulisan yang tergores di atas kertas itu. Tetapi hampir semuanya gagal mengungkap arti isi surat itu dengan alasan yang kuat. Hanya ada satu yang mengungkap maksud surat itu dengan ketetapan yang kuat. Dialah Raden Brahmanatyasa.

Baca lebih lanjut

ANTASENA RABI [LIVE] – Ki Hadi Sugito

Adus.. ah ora sah … | Manten kok klumut| Apa dumeh nek ora adus njur reged? Gene coro ora tau adus malah meling-meling…..

Adus.. | ah ora sah … | Manten kok klumut| Apa dumeh nek ora adus njur reged? Gene coro ora tau adus malah meling-meling…..

Menawa kabeh pasugatan file pagelaran wayang kulit saka Ki Hadi Sugito kang ana ing dunia maya diupamaake setundhun gedhang, bokmenawa file audio wayang kulit sing siji iki kaya dene epekan kang aran betiti. Lha piye, sasat kaya dene temu gelang anggone golek file liyane kang wis ana ing unggahan dunia maya, nanging tetep ketemune kaset seluloid sing kuwi-kuwi wae. Lakon kang wis diunggah ing sedhengan panggonan.

Baca lebih lanjut

Baratayuda [28] – Salya dan Bunga Cempakamulia.

baratayuda27_edited-2

“Silakan Raden memberi teka teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku tahu jawabannya”. Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan gelagat yang ia terima.

Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan langsung kata teka teki dari mulut Narasoma.

“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.

Baca lebih lanjut

BARATAYUDA [27] – Perjalanan Terakhir Salya…

Prabu Mandrakeswara yang salah memahami permintaan Narasoma akhirnya mengusir anaknya hingga terlunta lunta sampai di Pertapaan Argabelah....

Prabu Salya yang ditingalkan oleh kedua kemenakannya segera beranjak dari Sanggar Pemujaan. Ia teringat dengan kewajibannya bahwa hari ini harus segera kembali ke medan Kurukasetra. Ketika ia menengok kedalam tilam sari, dilihatnya istrinya Dewi Setyawati masih tertidur pulas memeluk guling. Termangu Prabu Salya memandang tubuh istrinya yang tergolek bagai boneka kencana. Ragu dalam hati Salya meninggalkan tempat istrinya berbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur.

Tetapi ia segera menetapkan diri akan kewajiban dan kesanggupannya terhadap menantunya, Prabu Duryudana. Tanpa membuang waktu lagi, bergegas ia berganti busana pamujan ke busana keprajuritan. Diperhatikan pusakanya seksama dengan perasaan yang tidak menentu. Berangkatlah Prabu Salya tanpa pamit dengan istrinya. Namun perasaan bersalah menghentak dalam dadanya. Ia telah meninggalkannya dengan sembunyi-sembunyi. Sepucuk surat telah ia letakkan di sisi pembaringan.

Baca lebih lanjut