PÅNÅKAWAN – Apa Perannya Dalam Alur Pewayangan Jåwå?

Pånåkawan dikenal dalam khasanah wayang terutama di Tanah Jawa. Seperti diketahui, bahwa wayang di Tanah Jawa pada umumnya melakonkan kisah Måhåbaråtå dan Råmåyånå. Tetapi Pånåkawan tidak dikenal dalam tutur asli kisah Måhåbaråtå dan Råmåyånå dari India. Bahkan saduran kitab Måhåbaråtå yang dikarang oleh Empu Sedah dan Panuluh-pun setahu saya tidak mengenal Pånåkawan. Kita juga bisa membaca terjemahan yang dirakit pada jaman Belanda oleh Partåwiråyå juga masih saja tidak mencantumkan tokoh Pånåkawan dalam ceritanya. Begitu juga cerita Babad Ramawijåyå yang dihimpun Annie Besant dalam pupuh-pupuh kidung Jawa-pun, Pånåkawan tidak dikenal.

Jadi kesimpulannya, panakawan hanya muncul dalam jagad pedhalangan saja. Baik itu panakawan kanan, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong,atau panakawan kiri, Togog dan Mbilung Såråwitå. Sedangkan bagi yang lebih suka dengan tutur cerita pewayangan, baik Måhåbaråtå atau Råmåyånå, Pånåkawan bisa diabaikan.

Baca lebih lanjut

Sebelum Sang Duta Datang..

Maka kemudian mereka ikut menuju Astinå dalam satu kereta. Kini untuk menghormati para dèwå sementara Kresnå mau ngambil alih kusir kereta dan Setyaki beralih menjadi keneknya.

 

*

Pandhåwå telah kehilangan negaranya, Negara Astinå, Negara warisan ayahnya, Pandhu Dèwånåtå. Negara Astinå kini telah diduduki oleh anak uwanya, Drestårastrå, yaitu sesaudara Kuråwå yang berjumlah seratus. Duryudånå, anak sulung Drestårastrå, yang bertahta hanya sebagai wakil selama Pandhåwå belum dewasa, tetapi akhirnya tidak mau melepas tahta. Duryudånå ibarat mengulum manisnya gula, ia enggan melepèh gula itu dari mulutnya.

Sebagai pelipur lara atas kekecewaan Pandhåwå, Drestårastrå lalu menawarkan hutan Wånåmartå, bagian dari Astinå, sebagai ganti untuk Pandhåwå membangun negara sendiri. Sukur berhasil kalau tidak ya tidak mengapa. Sebab Drestårastrå tahu, Wånåmartå adalah hutan yang sulit ditaklukan karena keangkerannya.

Baca lebih lanjut

Karnå-Surthikanthi, Sebuah Cerita Cinta Senyap.

 

/ Lali lali datan biså lali / Sun lelipur katon amalèlå / Buron gung kang måwă tlalè / Kemangi gagang wulung / Dimèn pejah dasih tan lalis / Minå kang membå ulå / Mbok sing rådå lulut / Mung saking asih kawulå / Paribasan jenang gulå åjå lali / Yèn lali dadi ålå. //

Karnå, anak Kunthi yang terbuang. Ia disisihkan dari pangkuan ibunya sejak masih bayi merah. Ia dibuang ke bengawan untuk menutupi aib negara. Bagaimana tidak. Kunthi, yang anak Raja Mandurå, Basukunthi, telah hamil diluar nikah. Tentu ini hal yang sangat memalukan.
Padahal kehamilan itu tidak disengaja. Kehamilan yang bukan karena tindakan serong. Kehamilan itu disebabkan oleh salah waktu dan tempat dalam menerapkan ilmu yang sedang ditekuninya; Kuntå Wekasing Rahså-Sabdå Tunggal Tanpå Lawan. Ajian dari guru Kunthi. Ajian dari nujum istana, Resi Druwåså, yang mampu mendatangkan dewa.

Sayang, waktu mandi telanjang, Kunthi merapal hapalan aji, sehingga Bathårå Suryå datang menemui Kunthi pada saat dan tempat yang salah, sehingga terjadilah peristiwa itu.

Sebagai tanggung jawab guru, Resi Druwåså memberi cara bagi Kunthi agar tetap perawan. Karnå, jabang bayi itu, dilahirkan liwat telinga dan dinamakan Karnå Basusèna. Karnå adalah bahasa lain dari telinga. Atau juga dinamakan Suryatmåjå sebagai anak Bathårå Suryå. Hilanglah Karnå dari silsilah Mandurå.
Karnå yang menjadi anak buangan itu akhirnya diadopsi Raja Petåperlayå. Sekarang ia sudah dalam kedewasaan birahi.

* Baca lebih lanjut

Aswåtåmå, Anak Bathårå Wrahaspati.

Kumbåyånå sudah jauh meninggalkan negaranya. Ayahnya, Prabu Baratwåjå, penguasa negara Atasangin, telah mengusirnya. Atau yang sebenarnya, Kumbåyånå lari menghindari kemarahan ayahnya yang tega hendak membunuhnya. Sebab Baratwåjå marah besar karena anaknya, Kumbåyånå, menolak untuk menikah.

Kumbåyånå yang sombong ingin, mengatur dirinya sendiri sekehendaknya. Ia ingin kebebasan, dengan pergi mengelilingi dunia menunjukan jati-dirinya. Menikah bagi Kumbåyånå adalah suatu hal yang dipikirnya akan menjadi sandungan untuk mewujudkan impiannya menjelajah dunia.

Sekarang Kumbåyånå berdiri lemas di sisi bengawan yang sedang banjir. Tepi seberang mustahil bisa dicapai, melihat lebarnya air sungai yang mengalir deras.

Baca lebih lanjut

Épisode Ajaran Kebatinan – Déwå Ruci dari Ki Nartosabdo.

Desakan Duryudånå terhadap Durnå, telah mengalahkan rasa keadilannya sebagai seorang guru. Wrekudårå ditegaskan oleh Para Kuråwå untuk disingkirkan lewat sebuah tipu-daya. Durnå menyanggupi, walau sebenarnya Wrekudårå merupakan siswa kesayangaya.

Upaya pertama Durnå untuk membunuh Wrekudårå adalah dengan cara agar si murid mencari Kayu Gung Susuhing Angin. Barang itu menurut Durnå ada di Hutan Tikbråsårå, yang ada di gunung Condråmuka, sebagai syarat akan ilmu yang hendak ia serap. Tipu itu gagal, malah Wrekudårå memperoleh tambahan kesaktian. Antara lain mampu kalis dari bahaya kuatnya tekanan air.

Baca lebih lanjut

Gilanya Si Pecinta Wanita.

Sudah aku coba untuk mengusir bayangan itu, tetapi tetap saja nampak kelebat Hadnyånåwati di sekelilingku. Aku harus bagaimana, Kakang? “

Di Astana Gådåmadånå. Tempat bersemayam leluhur Mandurå yang sudah mangkat. Disana tinggal anak muda trah Mandurå atau biasa disebut trah Yadåwå, atau Bangsa Yadu. Ia adalah putra dari Prabu Kresnå. Gunådèwå, nama anak muda itu. Ia berbulu lebat di sekujur tubuhnya dan berèkor seperti halnya seekor monyet. Maklumlah. Ia adalah cucu Jembawan, pendeta berujud kera, salah satu pemomong spiritual Prabu Råmå di jaman dahulu.
Jembawan menurunkan anak dari perkawinannya dengan Trijåthå, bernama Jembåwati.
Jembåwati saat dewasa diperistri Prabu Kresnå, dan lahir dua anak Jembawati; Gunadèwå yang punya fisik tidak normal itu, dan Såmbå yang terlahir sebagai manusia normal.

Dihadapan pedupaan yang selalu berasap, Gunådèwå meminta kasih dewa agar dirinya berubah seperti halnya manusia lumrah.

Baca lebih lanjut

WAHYU TRIDAYA – Ki Sugino Siswocarito.

 

Minangkani Pemundhutè Ki Gino Raharjo sing kèlangan link.

Wahyu Tridaya kuwè, jèrè anu sewijinè wahyu, sing sapa-a bisa olih, bakalè tèyèng nggadhuh kekuwatan sing rupanè kedigdayan, kesudibyan karo kanuragan. Njajal apa mangsudè ukara sing kaya kuwè apa ya?

Mulané, akèh tokoh sing arep kepéngin duwé wahyu sing kasiyatè maèn kaya kuwè. Jèrè.

Neng antarané sing padha nggolèt wahyu kuwè yakuwé; Prabu Baladèwa, Prabu Bomantara, Pendhita Drona, karo Semar Badranaya. Anggêr rika sing padha seneng wayang, mesthi wis ngreti, sing olih mesthi wis genah sapa.

Baca lebih lanjut

KRESNA KEMBAR – Ki Surono.

Ki Surono yang lahir di Madukara, Banjarnegara 27 Oktober 1921 ini, merupakan seorang dhalang legendaris Banyumas. Beliau banyak mewariskan sejumlah rekaman audio pita kaset, namun rekaman tidak dilakukan oleh perekam profesional atau komersial. Dengan demikian sangat sulit untuk mendapatkan sisa sisa rekaman beliau saat ini.

Bagi saya, rekaman yang saya dapatkan merupakan kali ini adalah sebuah serpihan kencana lain yang sulit dicari jejak rekamnya.

Ada satu lagi file yang ditemukan diantara sekian banyak rekaman Ki Surono Hadisaroyo nama lengkapnya, sejatinya adalah mozaik kencana yang tercecer dan satu keping lagi didapat dengan begitu sulit. Bagaimana tidak, rekaman Ki Surono sebenarnya sangat banyak. Mungkin bila dibandingkan dengan rekaman dalang kawentar lain di tlatah mBanyumas bisa dikatakan berimbang banyaknya.

Bisa disebut demikian, karena setelah beliau dilepas dari sebuah pengadilan yang tidak adil, maka hampir setiap pagelaran harus menyetor rekamannya ke pihak militer waktu itu dengan dalih monitoring.

Baca lebih lanjut

30. SINOM, Paramayoga – Sasraningrat

Prabu Sri Mapunggung myarsa | yèn wontên bantu gêng prapti | sanalika datan samar | yèn puniku kang sudarmi | nulya mêthuk ananging | sangêt dènnya sugun-sugun | sawadyanya tan ana | kang sikêp astraning jurit | Prabu Sri Mapunggung tansah atur sêmbah ||

Pada tahun 272, yang disengkala sebagai kalimat sukuning gunung sinembah, Brahmadewa Esa naik tahta di Negara Gilingaya. Sedangkan Gilingaya sendiri adalah dahulunya bernama Gilingwesi, yang dikendalikan oleh Sang Prabu Kadhali Brahma.

Tidak berapa lama kemudian, Sri Dewa Esa ingin membagi kerajaannya kepada para putra-putranya.

Baca lebih lanjut

29. GAMBUH, Paramayoga – Sasraningrat

dhuh pukulun sang prabu | amba dinutèng narendra ulun | ing paduka anyuwun sajatining sri | duk myarsa sang nata bêndu | salah tampinirèng batos ||

Tidak lama berada di Purwacarita, saking menahan rasa malu, Bathara Raksikadi kemudian malah pulang kembali ke tanah Hindi.

Beralih cerita di Kaendran. Pada saat itu terlihat adanya cahaya terang menyilaukan. Cahaya itu kemudian dimanterai oleh para jawata dan akhirnya terlihat, bahwa cahaya itu lama kelamaan berubah terlihat menjadi wujud tujuh bidadari. Mereka masing-masing mengaku bernama Dewi Supraba, Dyah Wilutama, Warsiki, Surendra, kemudian Tunjungbiru. Juga mereka ada yang bernama Dewi Gagarmayang, dan Irim-irim.

Baca lebih lanjut