Bagaimana Jadinya Ketika Dulu Wayangan Digelar Tanpa Pengeras Suara?

546996_516256058449032_1374898053_n

nuwun sewu kang Yosep Sekargadung, fotone tek jiot

Pada suatu milis paguyuban yang membahas tentang aspek pewayangan yang pernah saya ikuti, muncul suatu pertanyaan dari salah seorang anggota. Pertanyaannya sederhana, bagaimana bisa ya , orang menonton wayang pada jaman ketika belum ada pengeras suara?

Pasti pertanyaan mengenai muskilnya menonton wayang tapa pengeras suara ini muncul ketika sang penanya melihat situasi dan kondisi terkini dari pagelaran wayang (kulit).  Kalau pertanyaan itu bisa diurai, kemungkinan tambahan dari pertanyaan adalah sebagai berikut. Bagaimana orang bisa menonton tampilan wayang  dengan jarak yang sedemikian jauh dari kedudukan orang-orang yang menonton?  Tambahan lagi,  bagaimana para penonton dapat mendengar suara apa yang diucapkan oleh dalang dengan jarak tonton yang sedemikian jauh, tentu masih dengan pertanyaan tanpa pengeras suara?

Continue reading

KALIMATAYA 20 – “Alangkah senangnya, Emban, bila itu terjadi”.

CITRAHOYI DAN NYI SARI BESERTA NYI SURA

Melihat keduanya sudah duduk bersimpun dihadapannya, Dewi Citrawati berkata, “Biyung, apakah biyung sudah mendengar kabar terakhir mengenai perginya Prabu Arjunapati ke Astina? Aku merasa, dalam lawatannya, tak akan menang Arjunapati melawan kesaktian Arjuna”.

Nyai Sura sambil menyembah, menjawab, “Angger, berita yang terakhir hamba dengar adalah, perang besar telah terjadi. Wadyabala Sriwedari dan Astina dibantu dengan pasukan Dwarawati banyak yang tewas. Menurut berita dari mulut-kemulut, Prabu Arjunapati dan Patih Suwonda telah gugur bersama dengan banyak prajurit yang tumpas. Perang itu hanya berlangsung sehari saja dan diantaranya pihak Astina, hanya satu pembesar yang tewas, yaitu patih Dwarawati yang bernama Udawa. Itupun tewas sampyuh dengan Patih Suwonda”. Continue reading

ALAP-ALAPAN SETYABOMA – Ki Nartosabdo

PASEWAKAN ING NGASTINA

Perkawinan yang dituju oleh Pandhita Durna ketika mengharapkan Setyaboma sebagai istrinya,  bisa disebut sebagai perkawinan politis. Itu yang kita dengar ketika Prabu Duryudana mempertegas apakah Guru Silat sekaligus Guru Spiritualnya ingin meminang Dewi Setyaboma.

Menurut Sang Guru, bahwa tujuan menikahnya dengan Putri Lesanpura nanti,  bukan hanya semata-mata tergoda oleh sulistyaning warna dari Dewi Setyaboma, melainkan mengingat, bahwa ia juga kepengin memperkuat kokoh berdirinya Negara Astina dibawah pimpinan agung Prabu Duryudana.

Continue reading

KALIMATAYA 19 – Kesempatan Kedua Arjuna.

kalimataya19

Musuh yang sudah menyerah telah dibawa masuk kedalam penjara, dan bangkai musuh telah diperintahkan oleh Sri Kresna untuk disisihkan keluar dari peperangan. Sementara itu para pembesar telah kembali ke dalam pura, dan sebagian para punggawa diperintahkan untuk tetap ada diluar menjaga para tawanan yang tidak dapat ditampung dalam penjara.

Para pembesar Astina, Dwarawati dan Mandura serta saudara Prabu Yudistira, seperti Prabu Baladewa, Sri Kresna, Werkudara, Nakula dan Sadewa telah melangkah kedalam datulaya melaporkan jalannya peperangan dari awal hingga akhir kepada Prabu Yudistira yang menunggu sedari awal perang dengan perasaan cemas.

Continue reading

KALIMATAYA 18 – Akhir Arjunapati

kalimataya18-1_edited-1

Kekuatan senjata Cakra tidak bisa mengalahkan kesaktian Arjunapati. Tidak putus asa, Kresna kembali meneror Arjunapati dengan memunculkan ujud naga. Bukan hanya satu, tetapi beratus-ratus ekor, seakan tidak henti mengalir dari senjata Cakra. Kewalahan Arjunapati melawan ampuhnya naga jadi-jadian yang mendesaknya, sehingga Arjunapati menghunus senjata curian dari Arjuna.

Kali ini beribu-ribu burung garuda seakan tanpa henti keluar dari ujung senjata Ardadedali. Kembali campuh perang terjadi. Ramainya pertempuran memaksa para dewa turun untuk menyaksikan kehebatan tanding antara keduanya. Mereka turun dari kahyangan sambil menaburi ribuan kembang diantara yang sedang adu kesaktian.  

Continue reading

KALIMATAYA 17 – Udawa-pun Gugur.

kalimataya17a_edited-3

Maka pecahlah kehebohan disertai tangis Wara Sumbadra yang mengucap hendak bela pati mengikuti tewasnya suami. Buru-buru Kresna menenangkan Sumbadra dan memanggil Udawa untuk menghadapi keadaan yang begitu mendadak berubah, “Kakang Udawa, jangan terlambat,  tangkap musuh kita. Kerahkan semua wadya Astina dan Dwarawati, tumpas orang-orang Sriwedari”. Seru Kresna memerintahkan.

Prajurit Astina dan Dwarawati sebenarnya tidak tahu-menahu mengenai peristiwa yang sedang berlangsung dan berubah cepat. Mereka dengan gugup saling memberitahu apa yang harus mereka lakukan. Dengan cepat mereka siaga dan mulai masuk ke gelanggang perang.

Continue reading

KALIMATAYA 16 – Harga Diri dan Dendam

kalimataya16d-2
Demikianlah, maka kedua paranpara kepercayaan prabu Arjunapati mundur, setelah semua perintah telah dijelaskan. Prabu Arjunapati yang sudah berujud Dewi Citrahoyi sudah menaiki kereta dan siap diberangkatkan oleh Patih Suwonda. Diluar Patih Suwonda mengatur sebagian laskar yang hendak diberangkatkan ke Astina dan sebagian lagi menunggu dalam Negara.
Sejenak kemudian, suara gemuruh langkah para prajurit yang diberangkatkan dari Negara Sriwedari yang mengiring kereta. Indah busana para prajurit bagaikan sosok gunungan bunga. Bendera layu merah berkelebat diiring tetabuhan yang memekakkan telinga orang-orang yang menjajari pasukan pada setiap jalan yang dilalui.

Continue reading

KALIMATAYA 15 – Rencana yang Tinggal Rencana.

kalimataya15_

Kembali diceritakan yang ditinggal oleh keduanya, Prabu Kresna dan Prabu Arjunapati. Mereka melihat perkara sudah selesai. Maka Kresna kemudian mengatakan apa yang masih menjadi pikirannya, “Yayi Prabu Sriwedari, sekarang marilah kita pergi untuk memenuhi janjiku kepadamu, mencarikan wanita sebagai ganti dari Citrahoyi”.

“Duh Kanda Kresna, akan lebih baik bila nanti pada waktunya, kami akan datang ke Astina. Tidak akan kami membatalkan niat, nanti setelah kanda pulang, kami akan segera menyusul Kanda di Astina, dan kami menuruti apa yang Paduka perintahkan nanti”. Entah kenapa, Arjunapati menolak untuk berangkat bersama dengan Kresna. Penolakan yang dikemudian hari akan menentukan nasib Arjunapati.

Continue reading

AJI BRAJADENTA – Ki Sugino Siswocarito.

aji brajamusti

Niki onten malih para sederek sedaya, wayangan saking Ki Dhalang Gino, Lakon sing krihin empun ilang teng Jumbofile, kula ungah malih supayane penjengan sing kelangan lan dereng ngundhuh saged pikantuk malih.

Seniki sing ajeng kula aturaken kalih penjengan sedaya, nggih niku lampahan  Aji Brajamusti. Niki nggih lakon khas Banyumasan sing teng pengrasane kula, niki mandan onten gesehe kalih alur lakon mainstream.

Continue reading

KALIMATAYA 14 – Nista Arjunapati.

kalimataya14_edited-1
Terkejut Sang Arjunapati mengetahui kedatangan tamunya, buru-buru ia memerintahkan agar segera memperbolehkan keduanya masuk ke ruang tamu. Kedatangan Kresna disambut dengan rasa bahagia dan kemudian dipersilakan duduk. Ketiganya sudah selesai berbasa-basi dan Prabu Arjunapati menyatakan rasa hatinya. “Bahagia rasanya hati ini, telah kedatangan Raja Agung yang ia sangat kami junjung tinggi. Adakah hal yang bisa kami ketahui mengenai apa yang menjadi keperluan Kanda Prabu?”
“Yayi Prabu Arjunapati, kenapa aku datang ke Sriwedari, pertama, karena sudah lama aku tidak bertemu Yayi Arjunapati. Aku mengalah untuk datang ke Sriwedari juga untuk bertanya, sebab dari Yayi Arjunapati tidak ikut serta dalam Perang Baratayuda. Waktu itu kami sangat menunggu kedatangan Yayi Arjunapati beserta wadya balamu”. Kresna berbasa-basi membuka pembicaraan.

Continue reading