PALARAN NYAMLENG – Karawitan Purbakencana

Palaran_Nyamleng_3_Dahlia

Sajian Gendhing-Gendhing Banyumasan dari MasPatikraja selanjutnya, adalah gendhing Jawi mBanyumasan yang kami petik dari album Palaran Nyamleng Seri 3. Karawitan pengiring pesindhen Nyi Suryati, Nyi Jumirah dan Ny Wachyuni adalah Karawitan Purbakencana.

Bandingkan dengan garapan dari pusat budaya Jawa, maka ketrampilan olah gamelan yang disajikan oleh Karawitan Purba Kencana tidak bisa dianggap remeh. Dengarkan gending pertama Ladrang Balabak. Ciri dari sajian ini adalah begitu presisinya pengambilan suara dari instrument gamelan yang terhampar. Sisi salah satunya dapat didengar alunan gambang yang begitu melodious, kemudian disisi yang lain “thuthukan” bonang yang “mbarungi” iringan kidung para pesindhen ditengah aluanan gamelan. Begitu setimbang kedengaran paduan suara instrument serta vocal pesinden dan wiraswara yang dipandu dengan ketukan kendhang yang begitu kalem.

Judul pertama sajian ini bertajuk Ladrang Balabak. Balabak yang dalam pengertiannya diartikan blabak: kn. ar.têmbang têngahan; ke-[x] ak: kêblêbêg ing banyu, mugkin diartikan bahwa gendhing ini sebagai gambaran dari suasana ketika air menenggelamkan suatu wilayah

Continue reading

PANGKUR PALARAN RUJAK JERUK – Calung mBanyumasan Nyi Kampi

kampi

Gendhing Jawa adalah pengiring pagelaran wayang (kulit). Wayang tanpa iringan gamelan adalah bisa diumpamakan seperti ikan tanpa air. Air dalam perumpamaan sebagai pengiring, adalah harus disesuaikan dengan kehidupan ikan didalamnya, sehingga ikan didalam perumpaman diatas dapat hidup nyaman . Artinya harmonisasi pagelaran wayang menjadi hidup dan nyaman untuk kita nikmati.

Air keruh dapat diumpamakan adalah iringan yang telah terkontaminasi dengan berbagai macam polutan. Polutan dapat saja berupa lagu-lagu yang bukan seharusnya ada dalam irama “jawa”. Dapat berupa missal dangdutan, dapat juga berupa syair, lirik, cakepan dan sebagainya yang vulgar dan tidak berbudaya dan berkesopanan Jawa.

Continue reading

MIKUKUHAN – Ki Purbo Asmoro

mikukuhan copy

Mikukuhan adalah sebuah cerita yang bisa digolongkan sebagai sebuah hikayat bila kita bisa samakan dengan cerita Melayu. Sebuah cerita mengenai kejadian-kejadian yang dipercaya itu terjadi dalam masa lalu dan menjadi suri tauladan, bahkan dituruti apa – apa yang menjadi “awer-awer”nya dari cerita tersebut pada masyarakat adat Jawa.

Mikukuhan menceritakan dongeng Jawa pada saat dimana Negara Purwacarita atau Medang Kamulan dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Sri Mahapunggung. Raja ini pada masa setelah Mikukuhan dikenal sebagai ayah dari Dewi Sri, yang kelak menjadi dewi kesuburan tanaman pangan. Maka sejak raja Sri Mahapunggung naik tahta hingga Lakon Sri-Sadana, berbagai cerita mengenai tata cara pertanian termasuk petunjuk serta larangan bertani, banyak bertebaran di setiap bagian cerita. Continue reading

SUMANTRI NGENGER SERI 1 – Ki Sugino Siswocarito

sumantringenger1ver0 copy

Mendengarkan cerita Sumantri Ngenger dari Ki Sugino, lakon ini menguatkan kesan dari para saudara saya yang berasal dari “wetan” yang mengatakan bahwa Ki Sugino adalah dalang spesialis lakon Carangan. Pada lakon ini tergambar, bahwa nama-nama dalam silsilah Resi Swandagni terus turun ke Sumantri atau setelah menjadi patih di Maespati diberi nama Patih Suwanda tidak seperti yang tergambar dalam arus utama lakon wayang Jawa.

Dalam lakon ini terdapat nama Suwanda, yang bukan nama Sumantri setelah menjadi Patih Maespati. Siapakah Raden Suwanda dalam cerita ini? Menurut Ki Dalang Gino ia adalah saudara muda dari Prabu Harjuna Sasrabahu. Menurut cerita di banyak versi, bahwa benar bahwa Suwanda adalah buah kecintaan Prabu Harjuna Sasrabahu terhadap anak gunung yang tingkah laku dan ujudnya mampu menawan rasa sehingga ia diaku sebagai saudara. Namun dalam lakon ini kecintaan Arjuna Sasrabahu adalah karena ketika Sang Prabu Harjuna Sasra baru saja kehilangan adiknya Suwanda tadi, yang mirip sekali dengan ujud Sumantri.

Continue reading

LAIRE SEMAR – Ki Purbo Asmoro.

 

nabisulaiman.jimsakar.lan.parasatokewan

Pada tulisan saya terdahulu  dengan judul Maka Menjelmalah Antaga dan Ismaya menjadi Togog dan Semar , sudah sekilas disampaikan bagaimana Semar itu terlahir. Kali ini dari sebuah sajian dari Ki Purbo Asmoro, kami sampaikan sanggit dari bagiamana kisah lahirnya Semar dalam gelaran wayang kulit. Dalam gelaran ini bila dibandingkan dengan gagrak saduran dari Pedhalangan Gagrak Banyumasan terdapat  sedikit geseh.

Bahkan bila dibandingkan kejadian dalam beberapa bab, juga berbeda dengan gelaran dari sesama gagrak, contohnya, dari sumber gelaran dari Ki Nartosabdo, walau hanya dalam narasi ketika membicarakan ketika Bathara Guru yang tangannya menjadi empat adalah buah karena kesulitan menangkap Uma.

Kami sampaikan kepada pembaca lakon kejadian Semar, karena saya lihat sangat banyak klik untuk tulisan dengan judul Bermula dari Nabi Adam dan Siti Khawa, yang merupakan trilogy gancaran yang saya cuplik dari buku Pedalangan Gagrak Banyumasan, yang berakhir dengan kisah lahirnya Ismaya, kemudian berubah rupa dan dinamakan Semar.

Continue reading

DURNA MBALELA – Ki Alip Suwarjono

suryandadari_pujanggasekti copy

Ana siji maning rekaman lawas sekang Ki Alip Suwarjono. Dalang top sing surut ing kasidan jati neng kalamangsa jaman keemasanne. Dalang sing duwe vocal bening mantep condhong ngarah maring bariton, tapi ora banget-banget meksa nambah suara gurung. Pokoke maen lah . . .

Ketara kiye file MP3 sing dikonvert sekang kaset lawas, awit sekang suara gamelane sing tesih maen banget, rekamane khas rekaman kaset jaman tahun 80an, senajana derekam mono. Tambahan maning suluk khas Ki Alip Suwarjono sing neng kaset kiye durung ngambah era kenes kaya sing wis tau tek unggah lagi wingi kae. Sulukane esih plek melu cengkoke Ki Sugino, durung duwe improvisasi kaya sing agi wis tekan titi mangsa duwe jatidiri sing dadi trademark-e dhewek.

Continue reading

CANTRIK JANALOKA – Ki Sugino Siswocarito

kartamarma_citraksa_dursasana_sengkuni_karna_janaloka_edited-2

Unggahan ini adalah suatu contoh kesalah kaprahan dari bagaimana mengolah perekaman audio. Mungkin tujuan perekam adalah menampilkan suara yang super kenceng. Tapi sesungguhnya, bukan kuantitas suara yang diprioritaskan mutlak untuk memungut suara kedalam perekaman . Karena kuantitas kencangnya audio sesungguhnya adalah merupakan bagian dari proses amplifikasi dari Power Output Stage, atau tingkat End Amplifier. Sedangkan tugas pengolah perekam adalah mengolah kualitas.

Suara yang dihasilkan oleh sumber VCD ini begitu berantakan pada bagian beberapa file awal cerita. Clipping ada diseluruh bagian dari disc. Sesungguhnya, Sound Engineer seharusnya dibekali “awer-awer”, mungkin melalui Volume Meter, jangan sampai indicator melewati red line. Kalau sudah terlanjur begini kejadiannya, sulit sekali merestorasi puncak-puncak amplitude yang seharusnya berbentuk radial. Tetapi pada kejadian seperti ini, bentuk puncak amplitude sudah terlanjur terpangkas datar yang menyebabkan suara menjadi “sember”.

Continue reading

PRABU JAYANINGRAT – Ki Eko Suwaryo

prabujayaningrat0314_1_edited-1

Cuplikan dari Audio pagelaran Wayang Purwa yang digelar oleh Ki Eko Suwaryo kali ini adalah merupakan pengulangangan suatu bentuk kualitas rekaman dari pagelaran Ki Eko Suwaryo dalam bentuk VCD yang terdahulu. Pengulangan dalam hal tata kesetimbangan suara antar gamelan yang lebih condong ke irama gebukan ketipungan kendangnya. Ditambah lagi dengan distorsi yang cukup mengganggu di awal-awal file.

Baiknya kita tidak mempedulikan iringan gamelan yang ketidak “sreg”- annya berulang kali saya singgung. Tapi kita omongkan mengenai gaya mayangnya Ki Eko Suwaryo, dalang Banyumasan Pesisiran yang sedikit beda dengan Gaya Banyumasan Lor Gunung.

Continue reading

BAWOR DADI RATU – Ki Sugino Siswocarito

bawordadiratu_1

//Kinanthi panglipur wuyung/rerenggane prawan sunthi/isih cilik doyan nginang/tapih pinjung tur mantesi/ mendah lamun yen dhiwasa/ bumi langit gonjang-ganjing// . . . . . Lllaaaaaaaahhhhhh . . .  Sriii . . . .

_________________________________________________

Keriuhan suasana dengan celetukan wiyaga dan penonton serta amatirannya pemotongan/editing alur cerita oleh perekam disc pada babak awal, itulah hal yang tertangkap keadaannya pada disc yang sudah sangat lama tersimpan di laci meja kerja dirumah.

Yang pertama wajar, malah menambah gambaran suasana bahwa pagelaran dihadiri oleh banyak pengunjung. Tetapi untuk pemotongan (editing) dari dhodhogan awal hingga sulukan pathet nem ageng, adegan Pertapan Sukalima menjelang Gara-gara ketika Durna dicolong Tenung Turangga Desti serta adegan pasca gara-gara, menurut saya adalah suatu bentuk kefatalan.

Continue reading

ANTASENA RABI – Ki Eko Suwaryo

antasenarabi_edited-1

Ini adalah perform lain dari ki Eko Suwaryo. Judulnya Antasena Rabi. Seperti yang kemarin, audio ini dicungkil dari Video Disc hasil blusukan ke Wilayah Lembah Kendheng Selatan.

Seperti yang lainnya dari VCD pagelaran wayang kulit, disc ini adalah pilihan terbaik dari sekian banyak pilihan terburuk dari sisi audionya. Tetapi tetap saja, bahwa kami tidak menemukan audio dengan rekaman Stereo.

Mungkin saya pikir, mono-pun tidak apa, asal  kendangnya jangan mendominasi iringan pagelaran, sementara instrument gamelan yang lain terdengar lamat. Jangan sampai jenis ricikan gamelan yang dihampar segelar sepapan hanya terdengar seperti tabuhan ebeg.

Walaupun keinginan saya menikmati merdunya iringan karawitan tidak kesampaian, tapi lumayanlah . . . karena perform dari Ki Eko Suwaryo sedikit banyak telah mengobati kerinduan saya akan hadirnya dalang muda wayang Banyumasan gagrak pesisiran. Kemudian convertannyapun bisa saya edit dengan sedikit tambahan effect ruang. Continue reading