MAKA MENJELMALAH ANTAGA DAN ISMAYA MENJADI TOGOG DAN SEMAR

AntagaIsmaya copy

Demikianlah, tanpa banyak diceritakanm ketika Sayid Anwar atau setelah naik tahta bernama Sang Hyang  Nurcahya, dalam menjalankan kewajiban sebagai raja. Yang diketahui bahwa kemudian pasangan itu menurunkan seorang putra, yang kelak setelah naik tahta bergelar Sang Hyang Nurrasa.

Ketika Sang Hyang Nurrasa telah sampai pada saat kedewasaan, ia menikahi putri Prabu Rawangin dari Pulo Dewata yang bernama Dewi Rawati. Sang Hyang Nurrasa kemudian bertahta di Negara Pulo Dewata menggantikan mertuanya yang merelakan suami dari putri satu-satunya menggantikannya sebagai raja di Pulo Dewata.

Kedamaian berlanjut. Dari keturunan Sayid Anwar, lahir kembali cucu-cucu dari Sang Hyang Nurrasa dengan Dewi Rawati. Sang Hyang Nurrasa berputra 2 orang, yaitu Sanghyang Darmajaka dan Sang Hyang Wenang.

Tidak diceritakan masa anak hingga dewasanya kedua Putra Sang Hyang Nurrasa, yaitu  Sang Hyang Darmajaka dan Sang Hyang Wenang itu.  Diketahui setelah mereka berdua menginjak masa dewasa dan menjadi orang tua,  bahwa Sang Hyang Darmajaka berputra empat orang, satu perempuan dan tiga lelaki. Mereka adalah: Dewi Dremani, Hyang Dremana, Hyang Triyata dan bungsu bernama Hyang Catur Kenaka

****

Banyak yang salah kaprah dengan nama Dremana dan Dremani dengan menyebutnya sebagai Bremana dan Bremani. Sebab, pada pengucapan Bremana-Bremani sering disebut pada narasi ketika menggambarkan sosok gunungan pada adegan kedhatonan. Disebut,  kalimat Bremana-Bremani yang diucapkan sebagai narasi, adalah yang sejatinya bermakna sepasang kumbang jantan dan kumbang betina.

Cerita lanjutan dari trah Hyang Darmajaka tidak banyak dikisahkan, kecuali Putra bungsunya, yaitu Hyang Catur Kanaka yang kemudian menurunkan Hyang Naradda. Hyang Narada inilah yang kemudian ditaklukkan oleh Sang Hyang Guru dan kemudian menjadi patihnya.

Sang Hyang Wenang yang bergelar Sang Hyang Utipati atau Sang Hyang Sukma Kawekas, adalah putra kedua dari Sang Hyang Nurrasa. Dari trah Sang Hyang Wenang, kemudian seakan menjadi alur utama dari sejarah pewayangan. Dari kemudian dikenal sebagai Pandawa Sentris, yaitu keturunan kesekian dari trah Sang Hyang Wenang, hingga cerita wayang Gedhog yang mengisahkan kerajaan Kedhiri kelak.

Ketika Sang Hyang Wenang telah dewasa, ia mengaliri darah leluluhur, sebagai makluk sakti.  Oleh ambisinya, ia menciptakan Kahyangan tersendiri yang melebihi keunggulannya dengan segala Negara dan Kahyangan yang pernah ada. Sayang kemudaan darah yang masih menggelegak, membuatnya memancing emosi penguasa dari tempat yang ia jadikan kawasan Kahyangan. Kawasan yang ia dirikan sebuah  Kahyangan ternyata adalah wilayah Keling, walaupun Kahyangan tersebut terletak tinggi diatas mega

Raja Negara Keling yang bernama Prabu Ari, sangat murka, maka Sang Prabu menyiapkan para prajurit pilihan untuk menggempur Kahyangan yang telah selesai dibangun tersebut.

Tetapi kesaktian Prabu Ari beserta para prajuritnya ternyata kalah telak oleh kehebatan Sang Hyang Tunggal. Sebagai tanda tunduk, Prabu Ari menyerahkan putri Tunggalnya yang bernama Dewi Saoti, kepada Sang Hyang Wenang. Dan cerita baiknya, kedua orang muda itu ketika bertatap mata kemudian saling jatuh cinta dan menjadi pasangan yang serasi.

Sanghyang Wenang dan Dewi Saoti kemudian berputra tunggal, bernama Sang Hyang Tunggal. Oleh kedua orang tuanya, Sang Hyang Tunggal sudah dijodohkan sejak kecil dengan Putri dari Sang Hyang Darmajaka, yaitu Dewi Dremani. Dari perkawinan ini, Sang Hyang Tunggal berputra tiga, yaitu Sang Hyang Darmastuti, Sang Hyang Dewanjali lan Sang Hyang Lodrapati.

Sang Hyang Tunggal yang gemar menempa diri untuk meningkatkan kesaktiannya, pada suatu ketika, ia bertapa di dasar samudra. Tapi ada kesalahan yang diperbuat oleh Sang Hyang Tunggal, bahwa ia tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada penguasa setempat.

Setelah diketahui ada makluk asing yang memasuki wilayahnya, maka Raja di wilayah samudra yang bernama Prabu Rekatatama, mengusir pendatang yang dinilai tidak tau diri. Maka terjadi perang tanding antara Sang Hyang Tunggal dengan Prabu Rekatatama. Pertempuran yang hebat telah membuat samudra berdebur kencang. Panas yang juga ditimbulkan karena pertempuran itu jugamengakibatkan banyak penghuni lautan yang kemudian menjadi korban.

Pertempuran berlanjut berhari-hari. Namun makin lama semakin kelihatan, bahwa kesaktian Prabu Rekatatama setingkat lebih rendah dibanding Sang Hyang Wenang.
Sedikit demi sedikit Prabu Rekatatama terdesak yang kemudian menyerah. Kejadian berulang, Prabu Rekatatama yang mempunyai seorang putri bernama Dewi Rekatawati, pada akhirnya menjadi putri boyongan.

Segenap penghuni dasar samudra di wilayah itu adalah sebangsa kepiting kemudian menjadi taklukan Sang Hyang Tunggal. Terjadi kemudian perkawinan antara Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati. Demikianlah menurut takdir, karena sebenarnya makhluk dasar samudra itu pada dasarnya adalah sebangsa kepiting, maka lahir keturunan dari keduanya berujud sebutir telur.

Oleh keajaiban yang terjadi, telur itu mencelat keangkasa. Luar biasa kecepatan lesatannya butir telur itu, yang kemudian diuber oleh Sang Hyang Tunggal. Sayang, walau dengan sepenuh tenaga Sang Hyang tunggal dalam mengejar telur itu, namun tetap saja tidak tergapai.

Kocap, pada saat itu Sang Hyang Wenang sedang mengangkasa di atas Pulau Jawa. Melihat kilatan cahaya yang terang benderang menuju kearahnya, seketika Sang Hyang Wenang siaga diri yang kemudian disautnya. Terpegang ditangan telur itu, dan dipandang sejenak benda ditangannya. Oleh naluri yang dirasanya, kemudian benda itu dibantingkan pada awan hujan yang kemudian benda itu berubah menjadi tiga sosok manusia muda.

semartogog copy

Ketika semua lelaki yang tercipta dari sebuah telur telah duduk setata, hadir kemudian Sang Hyang Tunggal. Oleh ayahnya, diceritakan apa yang telah terjadi atas sebutir telur yang kini menjelma menjadi tiga lelaki dengan paras tampan. Maka gembiralah Hyang Tunggal ketika mendengar apa yang terjadi.

Karena sejatinya benda tersebut berujud sebutir telor, maka dari ketiga bagian telur itulah sebenarnya ketiga orang itu berasal. Maka Hyang Tunggal kemudian memberi masing-masing nama kepada ketiga anaknya. Yang berasal dari kulit telur dinamakan  Hyang Antaga, atau kemudian dikenal sebagai Togog Wijamantri atau Wijanamantri. Yang terjadi dari putih telur adalah yang kemudian dinamakan Hyang Ismaya, atau Hyang Maya yang kemudian dikenal dengan nama Semar. Dan bagian kuning telur,  dinamakan Hyang Manikmaya yang dikenal kemudian dengan julukan Bathara Guru.

Pada kalimat nasihat yang diberikan kepada anak-anaknya, Hyang tunggal mengatakan, bahwa salah satunya akan menguasai jagad, menurunkan para raja yang menguasai tanah Jawa dan akan berkedudukan di Suralaya. Suralaya atau dapat diartikan sebagai berani mati (sura=berani, laya [pralaya] =mati) adalah tempat dimana para Dewa berkedudukan dan titah yang berani memasuki berarti akan menemukan jalan kematiannya.

Mendengar perkataan ayahnya, Antaga dan Ismaya kemudian berrebut status sebagai yang paling tua. Mereka menganggap dengan status sebagai yang tertua, maka kekuasaan akan ada ditangan salah satu dari mereka. Dan terlebih lagi dapat menurunkan para penguasa di tanah Jawa.

Maka kemudian Sang Hyang tunggal mengajukan sayembara. Siapa yang sanggup menelan salah satu gunung yang ada di Pulau Jawa, maka ia akan diwisuda menjadi raja di Suralaya. Hyang Antaga segera maju menyanggupi. Diangkatnya salah satu gunung yang kemudian coba ditelannya.

Berkali dicoba Antaga menelan gunung sampai-sampai mata Hyang Antaga terbelalak dan mulutnya sampai sobek, tetapi tetap saja tidak berhasil memangsanya. Malah kemudian rupa yang bagus berubah secara mencolok menjadi sangat buruk dengan mata melotot dan mulut monyong.

Melihat Hyang Antaga yang gagal menelan gunung, dengan jumawa Hyang Ismaya melakukan tindakan serupa dengan apa yang dilakukan Wijamantri. Kali ini Ismaya berhasil! Tetapi apa yang terjadi kemudian? Gunung yang sudah masuk kedalam perutnya yang kemudian berusaha dimuntahkan ismaya, ia gagal melakukan. Maka sosok Hyang Ismaya yang semula bagus menjadi berbadan gendut dengan bokong yang bergelayut . . . .

(bersambung)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s